Senin, 21 Agustus 2017

Perusahaan Di Kotim Respons Usaha Perkebunan Berkelanjutan

id kotawaringin timur, kebun sawit, PT Uni Primacom
Perusahaan Di Kotim Respons Usaha Perkebunan Berkelanjutan
Salah satu danau yang dipertahankan di areal perkebunan kelapa sawit PT Uni Primacom dengan tujuan konservasi (Foto Antara Kalteng/Norjani)
Sampit (Antara Kalteng) - Kampanye pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan, mendapat respons positif dari sebagian perusahaan besar swasta perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, karena dinilai menjadi kebutuhan.

"Kami bersyukur karena perusahaan perkebunan menyambut baik pola usaha perkebunan berkelanjutan, salah satunya PT Uni Primacom. Kami berharap nantinya seluruh perkebunan bisa melakukan langkah serupa," kata Program Officer PMU Kemitraan, Andi Kiki di Sampit, Kamis.

Kemitraan atau Partnership adalah lembaga nirlaba yang dibentuk pada tahun 2000 oleh Bappenas bersama aktivis dari kalangan masyarakat sipil dan beberapa lembaga donor. Lembaga ini dikembangkan untuk dapat mengambil peran dalam menjembatani dan memfasilitasi jaringan dan kerjasama berbagai pihak untuk membangun tata pemerintahan yang adil, demokratis dan berkelanjutan demi kesejahteraan warga negara Indonesia.

Kemitraan telah bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur sejak 17 Agustus 2016 lalu dalam program pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan. Lokus kerja dalam kerjasama itu adalah menjalankan pola kemitraan perkebunan, penanganan konflik tenurial atau lahan, konservasi pada areal perkebunan dan inisiasi kerjasama multipihak untuk pembangunan perkebunan berkelanjutan.

Usaha perkebunan berkelanjutan menjaga keseimbangan usaha perkebunan dengan lingkungan sosial masyarakat serta kelestarian alam. Langkah ini juga untuk menekan potensi konflik dengan masyararakat dan dampak negatif kerusakan lingkungan.

Manajer Kemitraan Musirawas Group yang membawahi PT Uni Primacom, Irfan Hafid mengatakan, pihaknya menyambut terbuka program usaha perkebunan berkelanjutan karena sejalan tujuan perusahaan mereka. Selama ini mereka sudah menjalankan pola ini meski masih banyak yang harus dipenuhi dan ditingkatkan.

"Kami ingin keberadaan kami juga membawa dampak besar terhadap masyarakat dan pelestarian lingkungan. Masyarakat mungkin merasakan sendiri bagaimana kami selalu berupaya membantu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat," kata Irfan.

Selama ini perusahaan sudah bermitra dengan masyarakat dalam berbagai bentuk, seperti kebun plasma, menyerap hasil panen kebun sawit masyarakat, jasa transportasi hasil kebun dan lainnya. Bantuan juga diberikan kepada masyarakat yang ingin membuka kebun mandiri, di antaranya pengadaan bibit murah bersertifikat, peningkatan kualitas, transfer pengetahuan, pendampingan pengelolaan administrasi kebun dan lainnya.

PT Uni Primacom yang berlokasi di Kecamatan Parenggean, Kalimantan Tengah, ini juga berupaya keras menghindari konflik dan tindakan yang dapat melukai hati masyarakat. Permasalahan yang terjadi, seperti halnya konflik lahan, diupayakan diselesaikan di luar pengadilan. Bahkan pihak perusahaan pernah harus membayar tiga kali ganti rugi untuk satu lahan yang sama, namun jika tidak ada titik temu, pihak perusahaan terpaksa membawanya ke jalur hukum.

Dalam hal pelestarian lingkungan yakni penerapan konservasi, perusahaan ini sudah menetapkan kawasan seluas lebih dari 400 hektare untuk program "high conservation value forest" (HCVF) atau konservasi bernilai tinggi. Keanekaragaman hayati flora dan fauna di kawasan itu tetap dipertahankan.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ubi Hapakat Desa Sebungsu Kecamatan Tualan Hulu, Ampung Dumin mengatakan, pihaknya adalah salah satu pihak yang merasakan manfaat bermitra dengan perusahaan. Selain berbagai bantuan langsung untuk desa, perusahaan juga membantu petani dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit dengan cara yang benar.

"Sejak tahun 2012 kami mulai dibantu PT Uni Primacom. Selama ini kami dibantu dalam hal modal, administrasi dan pengetahuan teknis. Kami saat ini menuju ke arah plasma mandiri sehingga suatu saat kami bisa mengelola sendiri kebun kami," kata Ampung.

Pihaknya menyadari keterbatasan yang dimiliki masyarakat, khususnya dalam hal permodalan dan sumber daya manusia. Untunglah perusahaan bersedia membantu masyarakat tanpa berusaha mencampuri urusan internal kelompok tani setempat.

Kelompok tani yang saat dibentuk beranggotakan 18 kepala keluarga dengan lahan seluas 193,83 hektare ini kini mulai menikmati hasil kebun mereka. Pihak perusahaan juga membantu dengan selalu siap menampung hasil panen kebun sawit milik masyarakat. 

Editor: Ronny

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga