Warga Sampit Keluhkan Harga Tiket Pesawat Mahal

id Warga Sampit, Keluhkan Harga Tiket Pesawat Mahal , Bandara Haji Asan Sampit

Ilustrasi (istimewa)

...hal ini terjadi karena masih terbatasnya jadwal penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit diduga sebagai pemicu utama mahalnya harga tiket.
Sampit, Kalteng, 12/2 (ANTARA) - Warga Sampit yang mengguna jasa angkutan transportasi udara di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengeluh karena mahalnya harga tiket pesawat dan terbatasnya jadwal penerbangan.

"Harga tiket pesawat berkisar Rp600.000-Rp750.000. Sedangkan saat musim libur naik menjadi Rp950.000-Rp1,2 juta, bahkan bisa lebih dari itu," kata seorang warga Mujianto di Sampit, Selasa.

Menurut dia, hal ini terjadi karena masih terbatasnya jadwal penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit diduga sebagai pemicu utama mahalnya harga tiket.

Untuk menghindari mahalnya harga tiket tersebut, sebagian besar masyarakat memilih berangkat melalui Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalteng.

Berbagai pertimbangan yang membuat penumpang memilih terbang melalui Palangka Raya. Banyaknya pilihan maskapai dibanding di Bandara Haji Asan. Dengan banyaknya maskapai, maka calon penumpang bisa memilih waktu keberangkatan, katanya.

Selain banyaknya jadwal penerbangan, harga tiket juga lebih murah dibanding di Sampit. Untuk hari biasa harga tiket berkisar antara Rp450.000-Rp650.000, sedangkan hari libur Rp750.000-Rp950.000.

Maskapai yang beroperasi di Bandara Tjilik Riwut adalah Garuda Airlines, Sriwijaya Airlines, Lion Air dan beberapa penerbangan perintis lainnya. Sedang di Bandara Haji Asan Sampit hanya Kalstar Aviation dan Merpati Nusantara Airlines.

"Kalau tidak mendesak dan berangkat bersama keluarga, saya biasanya lebih memilih melalui Palangka Raya karena lumayan selisih harga tiketnya. Di Sampit rata-rata tiket ke Jakarta di atas Rp600.000, kalau di Palangka Raya lebih murah," katanya.

Walaupun harus menempuh perjalanan darat empat jam dan membayar taksi Rp70.000/orang, dia mengaku masih lebih murah lewat Palangka Raya. Apalagi sekarang enak karena travel di Sampit banyak yang mau mengantar langsung sampai ke Bandara, tambah dia.

Masih terbatasnya jam operasional di Bandara Haji Asan Sampit yang hanya sampai sore hari diduga menjadi salah satu pertimbangan sehingga maskapai lain belum bisa beroperasi di daerah itu.

Berbeda dengan di Bandara Tjilik Riwut, penerbangan bisa dilakukan pada malam hari sehingga maskapai lebih leluasa menentukan jam terbang dan menyesuaikan penggunaan jasa pesawat.

"Ini bukannya masalah kita tidak memanfaatkan Bandara di Sampit, tapi masyarakat pasti berhitung efisiensi. Apalagi pengguna jasa penerbangan di Sampit sebagian adalah pelaku usaha, jadi mereka pasti berhitung," katanya.

Dia mengharapkan pemerintah meningkatkan kualitas dan kuantitas Bandara Sampir sehingga akan banyak maskapai yang beroperasi di masa mendatang.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kotim, Rustam Fuadi menyatakan maskapai Sriwijaya Airline tertarik beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit, tapi belum ada informasi lanjutan apakah jadi beroperasi di Sampit atau tidak.

"Fasilitas Bandara Haji Asan Sampit akan terus ditingkatkan, terutama untuk landasan pacu akan terus diperpanjang, sehingga ke depan diharapkan akan ada pesawat lain yang mau membuka rute penerbangannya ke Sampit," ucapnya.



(T.KR-UTG/B/S019/S019) 12-02-2013 18:43:47

Pewarta :
Editor : Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar