Duta Besar As Kunjungi Perkebunan Karet Di Pulang Pisau

id Duta besar Amerika Serikat, Bupati Pulpis Edy Pratowo, Duta Besar As Kunjungi Perkebunan Karet Di Pulang Pisau

Duta Besar As Kunjungi Perkebunan Karet Di Pulang Pisau

Duta besar Amerika Serikat (AS), Brian McFeeters mengunjungi salah satu perkebunan karet di Desa Gohong, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. (Istimewa)

Pulang Pisau (Antara Kalteng) - Duta besar Amerika Serikat (AS), Brian McFeeters mengunjungi salah satu perkebunan karet di Desa Gohong, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah

Dalam kunjungan Dubes AS tersebut, Jumat (8/1) di Pulang Pisau (Pulpis), sekaligus melihat hasil perkebunan karet milik warga desa Gohong.

"Saya menilai perkebunan karet di desa ini bisa menjadi salah satu contoh yang baik dalam mengelola tanah untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan dan hutan," kata Brian.

Ia mengatakan, dalam kunjungannya ke Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Pulpis, desa Gohong, bahwa pengelolaan tanah yang dilakukan oleh masyarakat setempat dinilai cukup berhasil.

Sebab, katanya, masyarakat setempat memiliki lahan perkebunan karet tidak terbakar saat musibah kebakaran hutan dan lahan beberapa bulan yang lalu melanda daerah itu.

"Meski di sekitar tanah tersebut kita bisa melihat terbakar habis, namun masyarakat pemilik lahan kebun karet mampu mengantisipasinya dengan bijak," ucapnya.

Menurutnya, perkebunan karet akan sangat baik sekali dalam mencegah kebakaran hutan, karena ada insentif ekonominya. Melalui Lestari United States Agency for International Development (USAID Lestari), pihaknya akan tetap melakukan program berkelanjutan dengan Indonesia khususnya Provinsi Kalteng terkait dengan masalah lingkungan tersebut.

Sebelumnya, Bupati Pulang Pisau, Edy Pratowo mengatakan, dari 8.997 Km2 atau 899.700 hektare luas wilayah Kabupaten Pulpis, sekitar 659.797 ha atau 73%-nya merupakan lahan gambut.

Pemkab Pulpis mencatat sekitar 7.000 ha kawasan hutan, lahan, kebun, dan pe-karangan di lahan gambut hangus terbakar selama musim kemarau 2015.

"Penyebab kebakaran hutan dan lahan antara lain adanya aktivitas pembukaan lahan hingga dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," ucap Edy Paratowo.

Ia menambahkan, dampak dari bencana kebakaran hutan dan lahan telah mengakibatkan kabut asap hingga gangguan kesehatan serta aktivitas pendidikan dan transportasi masyarakata.

Edy mengungkapkan, sebagai upaya pemerintah Kabupaten Pulpis saat terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat maupun perusahaan yang berdomisili di wilayah itu, media cetak dan elektronik serta memberikan pelatihan bagaimana cara menanggulangi kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. 

Pewarta :
Editor : Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar