Kotawaringin Timur Fokus Kembangkan 2 Wisata Alam, Mana Saja?

id kotawaringin timur, bupati kotim, wisata kotim, pengembangan dua wisata alam

Pantai Ujung Pandaran Kabupaten Kotawaringin Timur dipadati wisatawan. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antara Kalteng) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah akan memfokuskan pengembangan dua objek wisata alam untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke daerah itu.

"Dua objek wisata akan menjadi fokus pembangunan lima tahun ke depan yaitu Pantai Ujung Pandaran dan hutan Sagonta Kota. Ini untuk mendukung tekad kita menjadikan daerah kita sebagai kota tujuan wisata," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotawaringin Timur, Fajrurrahman di Sampit, Jumat.

Pantai Ujung Pandaran terletak sekitar 80 kilometer atau bisa ditempuh sekitar dua jam dari Sampit. Banyak objek wisata yang bisa dikembangkan di lokasi yang terletak di Kecamatan Teluk Sampit.

Pantai Ujung Pandaran menawarkan pemandangan alam pantai yang sangat indah, dipadu aktivitas nelayan setempat. Deretan penginapan serta wahana permainan, siap memanjakan wisatawan yang ingin menghabiskan libur di pantai yang menghadap laut Jawa tersebut.

Pemerintah daerah mengalokasikan Rp40 miliar untuk membangun dermaga wisata dan sarana pendukung lainnya. Harapannya agar lokasi itu benar-benar menjadi tujuan wisata yang menyenangkan dan mengesankan bagi wisatawan.

Di arah Timur pantai tersebut juga terdapat objek wisata religi yakni kubah atau makam seorang ulama bernama Syekh Abu Hamid. Peziarah yang sering datang ke kubah itu tidak hanya dari kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah, tetapi juga Kalimantan Selatan.

Kecamatan Teluk Sampit juga menyimpan potensi wisata alam yang belum tergarap yakni air terjun gambut atau sering disebut air terjun merah daerah serta objek wisata Danau Burung. Kecamatan yang merupakan lumbung beras Kotawaringin Timur itu juga bisa memanfaatkan areal pertanian sebagai objek wisata pendukung.

Sementara itu, objek wisata Sagonta Kota terletak di Kelurahan Baamang Hulu Kecamatan Baamang, cukup dekat dengan pusat kota Sampit. Lokasinya bisa dicapai melalui jalur darat maupun sungai dengan waktu kurang dari 30 menit.

Hutan yang terletak di sisi Sungai Mentaya itu masih terjaga. Areal hutannya cukup luas yaitu mencapai 500 hektare, namun yang akhirnya ditetapkan menjadi kawasan ekowisata hanya sekitar 200 hektare.

Masyarakat sudah sepakat bahwa kawasan itu tidak boleh dialihfungsikan seperti untuk perkebunan kelapa sawit, namun mereka tetap bisa mengambil hasil hutan dengan mengusung kearifan lokal yang mengutamakan kelestarian lingkungan.

Diperkirakan ada lebih dari 39 jenis tanaman dan 40 satwa yang menghuni hutan gambut tersebut. Tanaman yang mulai langka seperti pohon besi atau ulin masih bisa ditemukan di sana. Begitu pula berbagai satwa seperti biawak, beruang hingga satwa langka seperti owa-owa dan orangutan juga masih ditemukan di kawasan itu.

"Kami juga mengembangkan agenda pariwisata rutin seperti Tiwah, mandi Safar, mamapas Lewu, simah Laut dan lainnya. Penguatan destinasi dan event pariwisata melalui promosi juga terus dilakukan. Pengembangan pusat pariwisata, citra pariwisata, mitra pariwisata dan promosi pariwisata juga terus dilakukan," tambah Fajrurrahman.

Fajrurrahman meyakinkan, pengembangan pariwisata juga akan berdampak positif terhadap instansi dan sektor lain. Pemerintah daerah terus meningkatkan kerjasama dengan pihak lain karena pariwisata harus dijalankan oleh sebuah sistem. Satu pihak tidak bekerja dengan bagus maka akan berdampak secara keseluruhan.

Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar