Selasa, 17 Oktober 2017

Polisi Berhasil Tangkap Pengedar 14.090 Pil Trihexypenidyl

id 14.090 Pil Trihexypenidyl, Gunung Kidul, Polisi Berhasil Tangkap Pengedar 14.090 Pil Trihexypenidyl
Polisi Berhasil Tangkap Pengedar 14.090 Pil Trihexypenidyl
Ilustrasi (Istimewa)
Gunung Kidul (Antara Kalteng) - Kepolisian Resor (Polres) Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menangkap seorang warga Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, AAS (24) karena diduga mengedarkan narkotika dan bahan berbahaya (narkoba) jenis pil trihexypenidyl sebanyak 14.090 butir.

"Dari pengembangan kasus EK diketahui mendapatkan pil itu dari AAS warga warga Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul. Dari tangan pelaku polisi menyita 14.090 butir pil," kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Gunung Kidul AKBP Muhammad Arif Sugiyanto di Gunung Kidul, Sabtu.

Ia mengungkapkan bahwa kasus itu bermula dari tertangkapnya EK (20) warga Gombong, Ponjong, yang membawa 40 butir pil trihexypenidyl pada Sabtu (10/6).

Dia mengatakan polisi langsung melakukan penggeledahan di rumah kos AAS, dan kemudian terungkap menyimpan 14.090 pil trihexypenidyl di dalam botol yang dimasukkan dalam kotak dan ditimbun di halaman rumahnya.

"Awalnya pelaku ditangkap dengan barang bukti 50 butir, dan setelah dilakukan pendalaman diketahui dia menyimpan pil di halaman rumah dengan cara ditimbun," katanya.

Arif mengatakan pihaknya sampai saat ini masih melakukan pendalaman untuk pemasok pil tersebut.

"Tengah kami dalami dari mana dia mendapatkan pil tersebut," katanya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Unit Reserse Narkoba Polres Gunung Kidul Iptu Agus Supriyanta mengemukakan bahwa pil yang per 20 butir dijual seharga Rp30.000 itu biasanya dikonsumsi anak muda.

Selain menyita puluhan ribu pil narkoba, polisi juga mengamankan dua telepon seluler (ponsel), dua kotak plastik dan 14 botol sebagai barang bukti kejahatan AAS. 

Atas perbuatannya itu, tersangka AAS dijerat Pasal 197 jo pasal 106 ayat 1 atau pasal 196 jo pasal 98 ayat 2 dan 3 Undang-Undang No.36/2009 tentnag Kesehatan, dengan ancam hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp1,5 miliar.

"Saat ini pelaku terus kami periksa," demikian Iptu Agus Supriyanta.

Editor: Ronny

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga