Waduh! Buaya Ketuk Pintu Rumah Warga, Sugian Histeris

id buaya, warga histeris, Ancaman serangan buaya

Ilustrasi, Buaya Sungai. (Istimewa)

Sampit (Antara Kalteng) - Ancaman serangan buaya makin membuat takut masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya, Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, karena buaya naik sampai ke depan pintu rumah warga.

"Seperti kejadian di rumah pak Sugian dan bu Enor, buaya naik sampai depan rumah. Saat tengah malam, terdengar suara seperti orang mengetuk pintu, begitu dibuka, ternyata buaya menganga. Pemilik rumah lari ke dalam, untungnya buayanya juga mencebur ke sungai. Suara ketukan itu diduga berasal dari kibasan ekor buaya ke pintu," kata Camat Pulau Hanaut, H Eddy Mashami di Sampit, Rabu.

Kemunculan buaya di Sungai Mentaya dekat permukiman, makin sering. Beberapa hari terakhir, buaya muncul malam hari saat air sungai pasang sehingga predator ganas itu dengan mudah naik ke bantaran sungai, bahkan naik ke pelataran rumah warga di pinggir sungai.

Buaya-buaya muara itu diduga mengincar tenak milik warga seperti ayam dan itik. Namun dikhawatirkan, konflik buaya dengan manusia tidak terhindarkan jika buaya makin sering masuk ke permukiman penduduk.

Saat ini sebagian masyarakat makin hati-hati saat beraktivitas di sungai. Beberapa warga bahkan mulai membuat toilet di darat karena takut diserang buaya saat di sungai, khususnya pada malam hari.

Eddy menegaskan, ancaman serangan buaya tidak bisa dianggap sepele, apalagi kini buaya makin sering muncul di sekitar permukiman. Dulu, buaya sangat jarang terlihat, paling sekitar tiga bulan sekali, namun kini hampir tiap hari ada laporan warga yang melihat buaya muncul.

"Tadi malam ada lagi warga Desa Hanaut yang melaporkan melihat buaya muncul dekat rumah mereka. Dua hari lalu ada empat buaya berjejer di pinggir sungai saat surut. Buaya ukuran dua meter itu sudah termasuk kategori berbahaya karena bisa memangsa manusia," kata Eddy.

Serangan buaya terhadap warga sudah banyak memakan korban. Di Kecamatan Pulau Hanaut saja, selama 2016 lalu ada empat warga yang diterkam buaya. Dari empat orang tersebut, hanya satu korban yang jenazahnya ditemukan, sedangkan tiga orang lainnya hilang hingga saat ini. Tahun ini juga ada warga yang tangannya terluka akibat disambar buaya.

Jumlah tersebut belum termasuk korban sambaran buaya di lokasi lain seperti Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit. Meningkatnya kemunculan buaya, membuat ancaman binatang buas itu juga makin meningkat.

Untuk mencegah kembali jatuh korban jiwa, pemerintah kecamatan dan desa makin gencar mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat beraktivitas di sungai. Upaya lainnya adalah memberikan bantuan jaring untuk mecegah buaya masuk ke lingkungan rumah warga.

Eddy mengatakan, pihaknya akan mengalokasikan anggaran pada 2018 untuk membeli lebih banyak lagi jaring untuk dibagikan kepada masyarakat. Pemerintah desa diminta juga mengalokasikan anggaran untuk bantuan jaring tersebut, khususnya untuk rumah-rumah yang rawan dinaiki buaya karena letaknya di pinggir sungai dan posisinya rendah.

Pemerintah kecamatan berterima kasih dengan kedatangan tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah. Namun untuk penanganan jangka panjang, diperlukan langkah lain seperti survei populasi buaya serta langkah nyata mencegah serangan buaya terhadap warga.

Buaya memang termasuk binatang yang dilindungi. Namun jika sudah sangat mengancam keselamatan masyarakat, maka tentu keselamatan masyarakat yang harus diutamakan. 

Pewarta :
Editor: Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar