Solusi Masalah Bangkitkan Rotan, Ini Tanggapan BC Sampit

id bea cukai sampit, rotan,

Rotan (Foto Antara Kalteng/Ronny NT)

Sampit (Antara Kalteng) - Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Sampit, Kalimantan Tengah, Hartono optimistis ada solusi terbaik membantu membangkitkan sektor rotan yang sedang lesu.

"Misalnya dengan kembali membuka keran ekspor rotan, namun dengan dikenakan kuota dan bea keluar. Tentunya setelah kebutuhan rotan dalam negeri sudah dipastikan terpenuhi, baru boleh diekspor," kata Hartono di Sampit, Kamis.

Hartono memberi perhatian serius terhadap lesunya perniagaan sektor rotan saat ini. Terlebih bagi Kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Kotawaringin Timur, sektor ini menjadi harapan bagi banyak warga yang sejak dulu mengandalkan penghasilan dari rotan, baik sebagai petani, perajin hingga pelaku usaha rotan.

Pertengahan Agustus lalu, sebuah kapal bermuatan 107 ton rotan yang bertolak dari Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, ditangkap di perairan Pulau Pengikik Kepulauan Riau saat dalam perjalanan, diduga hendak menuju Malaysia. Sebelumnya, Kantor Bea Cukai Pontianak menangkap kapal bermuatan 140 ton rotan asal Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat, namun rotannya diduga juga berasal dari Sampit.

Penyelundupan ini diduga imbas lain dari larangan ekspor rotan mentah yang mulai diberlakukan pada akhir 2011 lalu. Pelaku usaha rotan memilih mengirim secara ilegal agar bisa tetap mendapatkan keuntungan.

Hartono menilai, perlu ada solusi agar penyelundupan tidak terus terjadi. Perlu ada kebijakan sebagai solusi sehingga sektor usaha rotan kembali bangkit, penyelundupan bisa dicegah dan negara dapat pemasukan dari sektor ini.

Saat ini Bea dan Cukai Sampit terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin untuk bersama-sama mencari solusi. Secara internal Bea dan Cukai, Hartono juga sudah menyampaikan kepada pimpinannya di tingkat pusat terkait gambaran kondisi sektor rotan di Kalimantan Tengah, serta masukan tentang solusi yang mungkin bisa dilakukan.

Hartono juga berdiskusi dengan Wakil Bupati Kotawaringin Timur HM Taufiq Mukri terkait perkembangan kondisi sektor serta upaya bersama yang dilakukan untuk membantu mencari solusi masalah ini. Dia yakin ada solusi yang lebih baik untuk membantu masyarakat.

"Kajian sederhana yang saya sampaikan ke kantor pusat, mendapat dukungan yang luar biasa dari pimpinan di Rawamangun. Komunikasi dengan Kemendag (Kementerian Perdagangan) pun akhirnya terjalin. Diskusi dan rapat-rapat akhirnya terjadi di Kemendag dan sinyal positif pun terdengar," kata Hartono.

Hartono berharap, segera ada kebijakan baru dari pemerintah pusat sebagai solusi terbaik masalah ini. Apalagi kini Kementerian Perdagangan mulai menyikapi masalah ini dengan meminta laporan dari Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sementara itu, Irsad, salah satu petani rotan di Kecamatan Seranau mengaku masih sangat berharap ada solusi dari pemerintah. Menurutnya, kebijakan larangan ekspor rotan mentah merupakan kebijakan sepihak pemerintah pusat tanpa melihat dan mempertimbangkan kondisi masyarakat di lapangan.

"Setelah harga rotan mentah jatuh hanya menjadi sekitar Rp2.000 per kilogram, banyak usaha rotan yang tutup sehingga banyak yang kehilangan pekerjaan. Tidak ada solusi pemerintah. Dulu katanya akan ada gudang (pola resi gudang), buktinya sampai sekarang tidak ada," katanya.

Masyarakat berterima kasih kepada pihak-pihak yang masih memperjuangkan agar ada solusi masalah rotan. Masyarakat sangat berharap sektor rotan bangkit seperti semula sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena sektor ini mampu menyerap ribuan tenaga kerja dan tidak merepotkan pemerintah. 

Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar