BPTP Kalteng sudah kembangkan padi organik di Kapuas

id padi organik, bptp kalteng

Ilustrasi - Padi organik siap panen. (Foto Antara Lampung/Tohamakhsun)

Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah Fery Fahruddin Munir mengaku pihaknya sudah melakukan proyek percontohan sekaligus memberikan pembelajaran terhadap petani di Kabupaten Kapuas terkait cara mengembangkan tanaman padi organik.

Langkah yang telah dilakukan yakni mempersiapkan teknologi pendukung sembari memanfaatkan berbagai bahan organik dalam menetralisir kadar asam di lahan milik petani, kata Munir di Palangka Raya, Jumat.

"Misal, sekam padi diolah jadi arang sekam yang berfungsi menyediakan unsur mikro untuk digunakan menetralisir lahan ada kadar asamnya. Pupuk kandang juga diolah menjadi pupuk padi organik. Itu beberapa yang kita dilakukan," bebernya.

Walau telah melakukan percontohan dan pembelajaran, namun BPTP memastikan bahwa di Provinsi nomor dua terluas di Indonesia ini belum dapat 100 persen diterapkan tanaman padi organik.

Munir mengatakan sekarang ini masih perlu dilakukan pencucian atau penetralan lahan dengan menanam padi tanpa menggunakan bahan kimia. Upaya membebaskan lahan dari bahan kimia, maka dibutuhkan penanaman sampai panen minimal dua atau tiga kali.

"Kalau itu dilakukan, tentu ada dampak negatifnya, yakni produksi padi akan mengalami penurunan. Tapi, lambat laun hasil produksi akan meningkat, karena bahan organik bukan seperti bahan kimia yang cepat reaksinya," ucapnya.

Mengenai memberikan pemahaman terkait tanaman organik di tingkat petani Kalteng, BPTP menganggap perlu dan segera dilakukan. Hanya, dirinya tidak terlalu berharap akan langsung berhasil 100 persen.

Dia mengatakan ada perpaduan bahan kimia dengan bahan organik yang telah dilakukan petani di Kotawaringin Timur (Kotim) dan pola menanam padinya menggunakan sistem jajar legowo.

"Memang kita masih menggunakan 50 persen bahan kimia dan 50 bahan organik. Tapi hasil panennya sangat signifikan. Yang biasanya 3-4 ton meningkat menjadi 10 ton. Tapi memang tidak bisa langsung," demikian Munir. 



Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar