Tol sungai Kunci Jadi peningkatan sektor kepelabuhanan

id Dishub Kotim Fadlian Noor,Tol sungai Kunci,peningkatan sektor kepelabuhanan

Kepala Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur, Fadlian Noor. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, H Fadlian Noor terus menggaungkan wacana tol sungai karena diyakini menjadi kunci peningkatan sektor kepelabuhanan.

"Kalau tol sungai terwujud maka lalu lintas kapal akan meningkat dan berdampak pada perekonomian. Ini juga akan mengurangi beban jalan darat," kata Fadlian di Sampit, Jumat.

Jika lalu lintas kapal dan bongkar muat barang makin lancar, Fadlian yakin pengusaha tidak lagi memaksakan mengangkut barang dalam jumlah banyak sekaligus. Kelancaran lalu lintas kapal memberi jaminan pasokan barang selalu lancar.

Saat ini jalan di Kotawaringin Timur hanya mampu menahan beban delapan ton muatan sumbu terberat. Namun, banyak angkutan yang membawa muatan belasan ton, bahkan ada kontainer bermuatan mencapai 32 ton.

Lalu lintas angkutan barang cukup tinggi. Data Dinas Perhubungan, Jalan HM Arsyad yang merupakan jalur menuju Terminal Bagendang Pelabuhan Sampit dan dermaga lainnya, setiap harinya dilintasi sekitar 547 unit jumlah truk dan kontainer.

Menurut Fadlian, wacana tol sungai sangat sejalan dengan program tol laut yang kini gencar dilaksanakan pemerintah pusat. Tol sungai bertujuan menciptakan kelancaran lalu lintas kapal barang dan penumpang di Sungai Mentaya.

Untuk mewujudkan tol sungai, Fadlian berharap pengerukan muara dan alur Sungai Mentaya kembali dilakukan. Selain di muara, masih ada dua titik pendangkalan di alur dalam yakni di depan Pos TNI AL dan kawasan Serambut.

Kedalaman sungai Mentaya saat ini sekitar minus 4 meter LWS (Low Water Spring) atau air pasang terendah. Dengan kedalaman tersebut, maksimal kapal kargo yang bisa masuk adalah sekitar 3000 DWT (Dead Weight Tonnage) dan untuk tongkang sekitar 5000 DWT.

Sampai saat ini kapal yang akan berlabuh masih menggantungkan aktivitas pada kondisi pasang surut air sungai Mentaya karena pendangkalan sungai. Jika sungai sedang surut, kapal harus menunggu di muara sampai sungai kembali pasang sehingga kapal bisa masuk menyusuri alur hingga ke pelabuhan.

Pengerukan alur terakhir dilakukan Juni 2015 lalu oleh Kementerian Perhubungan dengan mengucurkan dana APBN sekitar Rp34 mi?liar. Dana itu digunakan untuk mengeruk sekitar 500.000 meter kubik lumpur di ambang luar sepanjang 1,8 kilometer dengan lebar 60 meter dan kedalaman antara empat hingga lima meter.

Berdasarkan data, jumlah kapal yang sandar di Terminal Sampit Pelabuhan Sampit rata-rata 15 call setiap bulan atau sekitar 180 call per tahun untuk kapal penumpang, roro dan kargo. Rata-rata waktu tunggu sandar kapal kargo sekitar dua hari, sedangkan kapal penumpang dan roro mendapat prioritas.

Sementara itu, kemampuan bongkar di Terminal Bagendang Pelabuhan Sampit, dulunya berkisar tujuh sampai sepuluh boks (kontainer) per jam. Setelah dioperasikannya dua `container crane` sejak 21 Maret 2017 lalu, kemampuannya meningkat menjadi 20 boks per jam.

Pengoperasian dua `container crane` yang disertai peresmian stasiun pandu itu diharapkan dapat meningkatkan pelayanan di Pelabuhan Sampit. Kapal yang dulunya dua hari baru bisa bongkar, sekarang bisa operasi 24 jam.

Saat ini kemampuan bongkar di Terminal Bagendang sekitar 39.000 kontainer per tahun. Dengan dioperasikannya dua `container crane` maka volumenya meningkat diperkirakan menjadi 100.000 kontainer atau petikemas per tahun.

"Kalau alur dikeruk dan alur sungai bisa dilewati 24 jam penuh, saya yakin lalu lintas dan bongkar muat kapal akan melonjak berkali-kali lipat. Ini akan berdampak besar terhadap laju pertumbuhan perekonomian," kata Fadlian.

Fadlian optimistis tol sungai bisa diwujudkan. Untuk melaksanakannya, pemerintah daerah bisa menggandeng perusahaan besar swasta dengan sistem kerjasama yang saling menguntungkan.

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar