Diduga ada permainan! SPORC Kalteng tetap tangkap pemilik kayu legal?

id Kalteng,SPORC Kalteng,pemilik kayu legal

Salah satu Adik Sabran (tengah) didampingi Kuasa hukumnya Antonius (kiri) menunjukan izin pangkalan kayu yang dikelola secara legal, Senin (12/3/18). (Foto Antara Kalteng/Adi Wibowo)

Ini jelas tindakan tidak professional, pangkalan yang memiliki izin dan pengangkutan dilakukan sendiri oleh pembeli namun pemilik pangkalan yang jadi tersangka...
Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Pemilik pangkalan kayu yang sudah mengantongi izin resmi dari Pemerintah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah Sabran ditangkap Satuan Polisi Kehutanan Respon Cepat Kalteng, namun pihaknya keberatan dengan penanganan hukum yang dilakukan pihak petugas tersebut. 

"Penangkapan serta penetapan tersangka terhadap Sabran dilakukan secara tidak profesional karena disisi lain, hanya Sabran sebagai pemilik pangkalan yang ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan pembeli kayu di pangkalan yang memproduksi kayu tersebut tidak dilakukan penyelidikan," kata Udin salah satu keluarga Sabran di Palangka Raya, Selasa.

Udin menerangkan, kasus ini berawal dari adanya pembeli bernama Wahyu yang mendatangai pangkalan milik Sabran di Jalan Seth Adji pada bulan Januari 2018. Saat itu Wahyu menyuruh anak buahnya untuk membeli kayu jenis meranti campuran di pangkalan milik Sabran sebanyak sembilan kubik. 

Pada waktu itu disepakati harga untuk sembilan kubik kayu tersebut senilai Rp20 juta. Untuk pengangkutannya dilakukan sendiri oleh pembeli dan dibubuhi sebuah  nota pembelian.

Setelah adanya kesepakatan tersebut, anak buah Wahyu mengangkut kayu yang dibeli dengan menggunakan sebuah truk. Ternyata helat waktu setengah jam berlalu, truk yang membawa kayu masak tersebut diamankan oleh pihak SPORC di Jalan Mahir Mahar arah Kalampangan. 

Setelah diamankan petugas SPORC, Wahyu meminta agar Sabran mengecek keberadaan anak buah Wahyu di kantor SPORC. Ketika mendatangi kantor SPORC, Sabran tiba-tiba langsung diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pengangkutan kayu ilegal, sedangkan Wahyu selaku pembeli tidak dilakukan penanganan oleh pihak SPORC.

"Ini jelas tindakan tidak professional, pangkalan yang memiliki izin dan pengangkutan dilakukan sendiri oleh pembeli namun pemilik pangkalan yang jadi tersangka. Sedangkan pihak pangkalan juga membeli kayu tersebut dari bansaw dan ada nota-nota pembeliannya," beber Udin.

Dilain pihak, Antonius selaku Penasehat Hukum dari Sabran mengaku bahwa kasus menimpa kliennya tersebut, kini telah ditempuh jalur praperadilan. Namun putusan dalam praperadilan itu dianggapnya tidak berlandaskan hukum yang kuat. 

Di mana esepsi dari SPORC dan gugatan pihaknya ditolak dan menganggap mekanisme yang dilakukan SPORC sudah sesuai prosedur. Sedangkan sejumlah bukti dan keterangan saksi ahli dalam sidang praperadilan diabaikan oleh Majelis Hakim yang dipimpin Zulkifli Pengadilan Negeri.

Masalah keputusan dari Majelis Hakim sidang praperadilan atas kliennya yang dianggap tidak memenuhi prosedur hukum tersebut, berencana akan melaporkan ketua majelis hakim yang menangani sidang praperadilan tersebut ke bidang Kode Etik dan Komisi III DPR-RI yang membidangi hukum.

"Putusan yang dilakukan majelis hakim dalam sidang praperadilan ini, kita akan laporkan ke Komisi Kode Etik dan Komisi III DPR-RI.Sebab kami nilai putusan ini tidak memiliki landasan hukum yang kuat," pungkas Antonius. 

Sementara itu saat dikonfirmasi melalui via telepon, Kepala SPORC Kalteng, Irmansyah  tidak bisa dihubungi. 

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar