Petani karet sampit keluhkan harga tak menentu

id petani karet,karet,harga karet

Petani karet sampit keluhkan harga tak menentu

Petani sedang menyadap karet. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Junai (40) petani karet Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengeluhkan harga jual getah karet yang tidak menentu.

"Dalam satu bulan bisa 3-4 kali berubah harga jual karet di tingkat petani. Kondisi itu tentu saja sangat merugikan kami sebagai petani," katanya di Sampit, Selasa.

Junai menduga tidak menentunya harga jual getah karet di tingkat petani tersebut akibat permainan para tengkulak getah karet yang mencari keuntungan sepihak.

"Untuk saat ini harga jual getah karet di tingkat petani turun dari yang sebelumnya Rp7.000/kg menjadi Rp6.000/kg," terangnya.

Junai mengatakan, selama Maret 2018 mengalami tiga kali perubahan harga. Awal bulan lalu sebesar Rp8.000/kg. Turun menjadi Rp7.000/kg dan terakhir turun lagi menjadi Rp6.000/kg.

"Terakhir para pengumpul karet minta jika harga getah karetnya tinggi maka kami diminta untuk mengurangi kadar air di getah karet. Untuk getah karet mangkok kering dihargai sebesar Rp10.000/kg hingga Rp11.000/kg," ucapnya.

Junai mengaku cukup sulit memenuhi permintaan pengumpul tersebut karena sekarang sering turun hujan sehingga mangkok penampungan hasil sadapan sering teruai air hujan.

"Kami berharap pemerintah Kotawaringin Timur bisa membantu permasalahan yang sedang kami hadapi saat ini. Dengan harapan ekonomi petani karet tidak terpuruk," ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan informsi di lapangan, tidak menentunya harga karet karena permintaan pabrik penampung getah karet seperti PT Sampit memang memberikan syarat, salah satunya adalah tidak menerima getah karet yang banyak mengandung air karena hal itu akan mengurangi kualitas getah karet.

Perusahaan penampung getah karet terbesar di Kotawaringin Timur tersebut mau membeli getah karet dengan kandungan air, namun dengan harga yang murah.

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar