6 Ibu rumah tangga di Danau Tundai keracunan buah hutan

id Keracunan Buah Hutan, Polsek Sebangau, Ipda Yusuf Priyo Wijay

Kapolsek Sebangau Ipda Yusuf Prio Wijaya (kanan) menjenguk Imur (47) korban keracunan buah hutan saat berada di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya, Minggu (1/4/18). (Istimewa)

Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Enam ibu rumah tangga yang bermukim di Kelurahan Danau Tundai, Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah harus dilarikan ke RSUD dr. Doris Sylvanus Kota setempat, karena mengalami keracunan setelah mengkonsumsi buah asal hutan yang disebut ketatau yang dibuat rujak.

"Salah satu di antara mereka atas nama ibu Imur 47 harus dirawat di RSUD setempat. Sedangkan lima orang lainnya sudah diperbolehkan pulang," kata Kapolsek Sebangau Ipda Yusuf Priyo Wijaya di Palangka Raya, Minggu.

Yusuf Priyo menjelaskan, sebelum peristiwa keracunan buah ketatau itu terjadi pada Sabtu (31/3/18) pagi, enam korban tersebut yang mendapatkan buah tersebut dari hutan dimakan dengan cara dirujak.

Merasa buah tersebut aman untuk dikonsumsi, mereka langsung menyantapnya dengan menggunakan rerempahan rujak yang sudah mereka buat.

Sialnya, pada siang harinya efek dari buah ketatau yang dikonsumsi mulai bereaksi. Alhasil ke enam IRT tersebut mengalami mual dan muntah-muntah.

"Melihat hal tersebut enam korban langsung dilarikan ke IGD RSUD dr Doris Sylvanus untuk mendapatkan pertolongan. Setelah mereka menjalani perawatan sebentar, lima orang diperbolehkan pulang, sedangkan untuk Imur harus di rawat di rumah sakit karena masih ada efeknya," ucap Yusuf.

Ditambahkan perwira berpangkat balok satu itu, kondisi Imur kini berangsur-angsur membaik setelah ditangani tim medis Rumah sakit setempat.

"Ibu Imur masih menjalani perawatan sebab yang bersangkutan saat diperiksa oleh tim medis yang bersangkutan memiliki gejala sakit maag. Makanya ia masih menjalani perawatan intensif," tegasnya.

Lima IRT lainnya yang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter bernama Ida, Darsih, Asep dan Siska kini sudah bisa beraktivitas sehari-hari.

Pewarta :
Editor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar