Heboh! Warga temukan bayi di semak belukar beralaskan kantong plastik

id Warga Palangka Raya temukan bayi di semak belukar,penemuan bayi di palangka raya,Warga Palangka Raya temukan bayi di semak belukar beralasan kantong p

Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul Rein Krisman Siregar (kiri) didampingi istrinya Yuliana Timbul Siregar dan petugas rumah sakit saat memberikan pertolongan terhadap bayi laki-laki yang ditemukan warga di semak belukar, Kamis (9/8/18). (Foto Antara Kalteng/Adi Wibowo)

Ketika ditemukan berada di semak belukar tanpa busana dan hanya beralaskan kantong plastik. Kuat dugaan bayi laki-laki itu lahir tadi malam dan belum 1x24 jam
Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Warga Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah dihebohkan dengan penemuan seorang bayi yang diketahui berjenis kelamin laki-laki di semak belukar pada kawasan Jalan G Obos XXVI,  RT 07, RW 06 Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya dalam keadaan masih hidup.

"Kami beberapa kali ada mendengar suara tangisan bayi yang tidak jauh dari tempat kami bekerja, namun ketika dicari tidak ketemu. Sekitar kurang lebih pukul 14.00 WIB, tangisan si bayi kembali muncul dan kami menemukannya berada di semak belukar tepatnya di belakang rumah warga di Jalan G Obos XXVI dengan kondisi masih hidup," kata salah satu saksi yang bekerja sebagai tukang bangunan, Anto di Palangka Raya, Kamis.

Anto mengatakan, setelah menemukan bayi tersebut ia dengan beberapa orang rekannya langsung segera menghubungi pihak yang berwajib untuk memberikan pertolongan. 

"Kondisi si bayi masih ada tali pusarnya saat ditemukan mas," katanya.

Kapolres Palangka Raya AKBP Timbul Rein Krisman Siregar mengatakan, usai menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya penemuan bayi tersebut pihaknya langsung mengutus sejumlah anggotanya untuk meluncur ke lokasi kejadian penemuan.

Anggota dibantu warga sekitar yang melihat kondisi bayi cukup tidak sehat itu, langsung mengevakuasi bayi mungil tersebut serta membawanya ke RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya. 

"Ketika ditemukan berada di semak belukar tanpa busana dan hanya beralaskan kantong plastik. Kuat dugaan bayi laki-laki itu lahir tadi malam dan belum 1x24 jam," kata perwira berpangkat melati dua itu. 

Dengan adanya penemuan bayi tersebut, aparat setempat belum berani memastikan apakah bayi tersebut atas hubungan gelap orangtuanya serta lain sebagainya. 

Hanya saja, dengan adanya peristiwa tersebut pihaknya akan melakukan penyelidikan siapa pembuang bayi berparas ganteng dan berkulit putih itu. 

"Sepertinya memang sengaja diletakkan orang tuanya di semak belukar. Mengenai alasannya kami belum mengetahuinya sama sekali, karena tidak ada satu orang pun yang melihat siapa yang menaruh bayi malang itu di semak belukar tersebut," tegasnya. 

Sementara itu, Kabid Humas RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya, dr Theodorus Sapta Admaja membenarkan bahwa tim medis lansung memberikan pertolongan terhadap seorang bayi laki-laki yang diantar ke UGD oleh pihak kepolisian setempat. 

Bayi laki-laki dengan berat 2,7 kg yang lahir dalam cukup bulan sejak ditemukan sudah mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Bahkan kondisinya saat diantar ke UGD mengalami luka lecet dibeberapa tubuhnya. 

"Tim dokter kini sedang memberikan pertolongan yang terbaik untuk bayi laki-laki tersebut, agar kondisinya bisa stabil seperti bayi lainnya yang baru saja lahir," kata Theodorus

Dijelaskan Theo, untuk tali puasarnya saat itu sudah tidak ada lagi. Hanya saja ketika ditemukan si bayi ini ada mengalami kelainan dari pembawaan saat dilahirkan sang ibu. 

Kelainan itu dibagian perutnya ada usus yang keluar dari bagian perutnya. Maka dari itu diduga kuat karena ada kelainan itulah bayi tidak berdosa itu sengaja dibuang. 

"Si bayi juga sempat kehilangan suhu tubuh karena udara di lokasi dia ditemukan dingin, sehingga ia harus diberikan tindakan medis untuk kembali memulihkan kondisinya," ungkapnya. 

Ia menambahkan, untuk pembiayaan medis pihaknya menjamin bahwa rumah sakit akan memberikan layanan kesehatan secara gratis. 

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar