Desa pelosok Kotim masih kekurangan bidan

id Desa pelosok Kotim masih kekurangan bidan,Dinas Kesehatan,Sampit,Faisal Novendra Cahyanto

Dwi Aggriani, seorang bidan di Desa Bagendang Hilir sedang memeriksa seorang ibu yang baru melahirkan, beberapa waktu lalu. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah kekurangan tenaga bidan, terutama untuk daerah pedesaan di wilayah pelosok.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Faisal Novendra Cahyanto di Sampit, Sabtu, mengatakan pemerintah daerah saat ini terus berupaya untuk memenuhi kekurangan tenaga bidan di daerah perdesaan tersebut.

"Kami terus berupaya agar kebutuhan bidan di pedesaan bisa terpenuhi, melalui perekrutan tenaga kontrak diharapkan nantinya kekurangan tersebut bisa teratasi," katanya.

Untuk pemenuhan tenaga bidan tersebut telah beberapa kali diusulkan ke pemerintah pusat, namun baru tahun 2018 ini dikabulkan oleh pemerintah pusat.

"Melalui perekrutan calon aparatur sipil negara (CASN) yang akan segera dilaksanakan kami berharap kekurangan tenaga bidan bisa teratasi secara bertahap," katanya.

Faisal mengatakan, tenaga kesehatan hasil perekrutan 2018, penempatannya akan diprioritaskan di wilayah pelosok.

"Khusus untuk tenaga kesehatan tahun ini kita mendapat kuota sebanyak 275 orang, dan sesuai rencana awal semuanya akan kita tempatkan di wilayah pelosok," katanya.

Pemerintah daerah juga berjanji akan memberikan fasilitas dan juga kesejahteraan kepada para tenaga kesehatan asalkan siap bekerja membantu pemerintah melayani kesehatan masyarakat.

Dengan adanya bidan di wilayah pelosok diharapkan dapat membantu masyarakat, terutama ibu hamil, sehingga angka kematian ibu dan bayi bisa lebih ditekan.

"Untuk jumlah desa yang belum memiliki bidan cukup banyak. Namun belum kita hitung secara keseluruhan. Dan mudah-mudahan dengan adanya penerimaan CASN ini, dapat memecahkan kekurangan bidan di pedesaan tersebut," demikian Faisal. 

Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar