Gerombolan babi hutan masuk perkampungan

id Gerombolan babi hutan masuk perkampungan,babi hutan

Ilustrasi (Infotrens)

Sukabumi (Antaranews Kalteng) - Kekurangan makanan di habitatnya di Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat gerombolan kawanan babi hutan menerobos masuk perkampungan warga dan merusak lahan pertanian di Kampung Genteng.

"Ada lima ekor babi hutan yang diduga satu keluarga, dua diantaranya berhasil ditangkap dan dibunuh warga sementara tiga lainnya berhasil kabur dan masuk kampung sebelah," kata Pipit warga Desa Lembursawah, Kecamatan Cicantayan, Kamis.

Bahkan akibat serangan babi hutan tersebut warung miliknya diacak-acak karena terlihat hewan itu seperti kelaparan dan mengambil makanan yang ada.

Warga yang melihat adanya babi yang masuk perkampungan langsung mengambil bambu dan alat seadanya untuk menangkapnya.

Namun hanya dua ekor saja yang berasil ditangkap dan langsung dibunuh warga dengan menggunakan balok kayu, bambu dan benda keras lainnya. Tetapi tiga ekor lainnya kabur ke perkampungan tetangga.

Warga pun masih mencemaskan masuknya kembali babi hutan ke perkampungan apalagi yang ukurannya besar belum tertangkap. Diduga kawanan babi tersebut masuk ke permukiman warga karena habitatnya di Gunung Walat sudah kekeringan sehingga persediaan makanan dan minumnya habis.

Sementara, Ketua RT setempat Ubuh menambahkan akibat kemarau panjang ini areal Gunung Walat sudah kekeringan, jarak dari hutan ke permukiman warga tidak jauh. Sehingga hewan tersebut turun gunung dan langsung mencari makanan di sawah hingga ke perkampungan.

"Bangkai babi yang sudah dibunuh tersebut tidak tahu dibawa ke mana oleh warga bisa saja dibuang atau dikuburkan. Tapi saya sudah mengimbau warga untuk waspada khawatir  ada babi lagi yang menerobos masuk ke permukiman," jelasnya.

Saat ini populasi babi di Gunung Walat sudah banyak berkurang karena persediaan makanan menipis sehingga banyak yang pindah tempat untuk mencari makanan dan minum bahkan hingga ke permukiman masyarakat.

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar