Tidak hati-hati, media bisa terjebak pesan terorisme

id DEWAN PERS : MEDIA JANGAN TERJEBAK PESAN TERORISME,Yosep adi prasetyo,Media massa,Media sosial,Palangka raya,Terorisme,Radikalisme

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (tengah) menjadi narasumber dalam kegiatan literasi digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat yang dilaksanakan di Kota Palangka Raya, Kamis (11/10/18). (Foto Istimewa)

Palangka Raya (Antaranews Kalteng) – Pengelola media massa dan pengguna media sosial diingatkan lebih bijak dan berhati-hati agar tidak terjebak atau diperalat menjadi penyampai pesan terorisme akibat tanpa sadar menyebarkan informasi yang diinginkan pelaku teror.

"Apabila tak hati-hati, media massa tanpa sadar bisa terjebak menyampaikan pesan dari para pelaku terorisme ketika menayangkan atau membuat pemberitaannya," kata Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo di Palangka Raya, Kamis.

Pesan itu disampaikan Yosep saat  diskusi bertajuk 'Saring sebelum Sharing'. Diskusi ini mengangkat isu tentang literasi digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat.

Kegiatan ini digagas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Tengah. Peserta yang hadir berasal dari kalangan media massa dan pihak terkait lainnya.

Menurut Yosep, era digitalisasi sulit dibendung. Salah satu dampak negatif yang mungkin muncul adalah rawannya media massa dan media sosial dimanfaatkan oleh kelompok radikal maupun teroris untuk menyebarkan pesan-pesan dengan tujuan menimbulkan kepanikan dan ketakutan di masyarakat.

Yosep mencontohkan, beberapa waktu lalu muncul fenomena sejumlah media massa televisi menayangkan secara langsung peristiwa pengepungan kelompok teroris di Wonosobo oleh Densus 88 Anti Teror selama berhari-hari.

"Tanpa disadari, tayangan seperti itu bisa saja memunculkan pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat yang menonton. Dengan sedikit orang (teroris) yang dikepung, bisa jadi malah dianggap 'hero' (pahlawan) oleh masyarakat,” ucap Yosep.

Menurut pria akrab disapa Stanley, pemahaman keliru tersebut berpotensi memunculkan rasa simpati di kalangan masyarakat. Simpati itulah yang bisa saja menjadi cikal bakal penerimaan masyarakat terhadap paham-paham radikal.

"Melalui tayangan seperti itulah pesan-pesan terorisme ke masyarakat tersampaikan. Oleh sebab itu, Dewan Pers juga sudah sepakat untuk menyetop tayangan langsung peristiwa teror. Tayangan secara langsung hanya boleh ketika kondisi lokasi sudah disterilkan," bebernya. 

Di lokasi yang sama, Kepala FKPT Provinsi Kalimantan Tengah Nurul Edy melalui Wakil Ketua Bidang Media Massa Sutransyah menambahkan, kegiatan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda yang berada di provinsi berjuluk ‘Bumi Tambun Bungai-Bumi Pancasila’ mengenai bahaya teroris dalam kaitannya media massa dan media sosial.

Narasumber juga memberikan pemahaman mengenai dampak negatif internet sebagai salah satu sarana penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Pemahaman ini penting karena saat ini internet sudah menjadi bagian keseharian masyarakat.

"Dalam kegiatan ini kami hanya bermaksud memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya peran media massa dalam upaya pencegahan terorisme," demikian Sutransyah.

Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar