Bajat! Gara-gara mabuk paman nekat cabuli keponakan sendiri di Bartim

id cabul,pemerkosaan,bartim,Gara-gara mabuk paman nekat cabuli keponakan sendiri di Bartim,tamiang layang

Pullah salah satu pelaku pencabulan yang tidak lain paman dari korban yang saat ini sudah diamankan oleh pihak petugas kepolisian. (Ist)

Tamiang Layang (Antaranews Kalteng) - Seorang duda, warga Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, Pullah (23) ditangkap Reskrim Polsek Pematang Karau karena mencabuli anak dibawah umur yang tidak lain keponakannya sendiri, sebut saja Melati (14) yang masih berstatus pelajar. 

Kapolres Bartim AKBP Wahid Kurniawan melalui Kapolsek Pematang Karau, Ipda R Rachmad Abdul Rachim, membenarkan kejadian tersebut dan pelaku sudah ditahan sejak Minggu (14/10/18).

"Pelaku sudah ditahan dengan dugaan melanggar UU Perlindungan anak," kata Kapolsek Pematang Karau, Ipda R. Rachmad Abdul Rachim via telepon, Senin.

Kejadian bermula pada Sabtu (13/10/18) sekitar pukul 02.30 WIB dini hari. Melati saat itu tidur pulas sendirian di kamarnya, karena ditinggal orang tuanya keluar daerah.

Pullah yang juga paman korban saat itu dalam kondisi mabuk minuman keras berupaya masuk dengan mencongkel pintu jendela. Setelah masuk, korban yang terbangun langsung disekap menggunakan tangan dan diancam dengan parang.

Pullah memaksa berhubungan badan. Permintaan ini pun ditolak korban dan pelaku langsung melepas sejumlah pakaian dan memaksa korban untuk melakukan hal yang tidak terpuji.

Mungkin merasa puas bercampur rasa takut ketahuan, Pullah keluar jendela. Selang tidak lama, Melati pun minta pertolongan warga dan bantuan aparat Polsek Pematang Karau.

"Kita sudah menahan pelaku sejak kemarin usai diperiksa secara intensif dan dari bukti-bukti hasil penyelidikan. Salah satu bukti adalah celana dalam milik korban yang tertinggal," katanya.

Menurut Rachmad, berdasarkan pemeriksaan pelaku nekat melakukan perbuatan yang tidak sewajarnya itu akibat pengaruh minuman keras alias mabuk.

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar