Begini hasil tes beras organik milik petani di Bartim

id Bartim,Barito Timur,Pemkab Bartim,Tamiang Layang,Beras Organik

Kepala Dinas Pertanian Bartim Ir Riza Rahmadi. (Foto Antara Kalteng/Habibullah)

Sampel beras hasil panen padi organik tersebut diuji dengan delapan belas zat kimia dan hasilnya sangat memuaskan
Tamiang Layang (Antaranews Kalteng) - Beras hasil panen padi organik Inpari 64 pola mina padi di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah telah lulus uji labolatorium dan sangat rendah bahan kimia. Mina padi merupakan integrasi antara pertanian dan budidaya ikan dalam satu lahan,

Kepala Dinas Pertanian Bartim Ir Riza Rahmadi kepada Antara Kalteng mengatakan, setelah dilakukan uji pada labolatorium PT Sucofindo Surabaya diketahui hasilnya memuaskan.

"Sampel beras hasil panen padi organik tersebut diuji dengan delapan belas zat kimia dan hasilnya sangat memuaskan. Rendahnya kadar kimia dari hasil uji coba tersebut cukup memuaskan karena termasuk beras organik premium," kata Kadis Pertanian Bartim Riza, di Tamiang Layang, Kamis.

Menurut Riza, dengan hasil tersebut tentu akan mudah dipasarkan terutama pada pasar-pasar di wilayah pulau jawa yang banyak peminatnya. Terlebih sangat aman dikonsumsi bagi kesehatan.

Untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pemerintah sangat berharap ada koperasi lokal yang bisa menampung dan mengelola niaga beras organik. Termasuk ikan yang dipanen oleh para petani ketika melakukan program mina padi.

Baca juga: Inovasi pertanian harus mampu tingkatkan produksi padi Barito Timur

Pihaknya mengharapkan beberapa koperasi lokal binaan Dinas Koperasi dan UMKM Bartim yang bisa mengelola hasil produksi padi tersebut dengan maksimal.

Harga gabah kering panen di Kabupaten Bartim saat ini mencapai Rp4.300,- per kilogram. Sedangkan harga gabah kering giling Rp4.800,- per kilogram.

"Jika dikelola dengan sebaik-baiknya, sudah ada potensi dan akan menguntungkan bagi pengelola. Potensi mina padi perlu diingat bukan hanya menghasilkan beras, tapi juga pengembangan ikan yang dibudi daya pada lahan tersebut" katanya.

Selain pengelola yang mendapat untung para petani juga mendapatkan laba, karena setelah panen bisa langsung dipasarkan oleh koperasi untuk dijual kembali ke distributor di pasar-pasar besar yang ada di Jawa.

Sedangkan ikan yang dipanen juga diharapkan bisa dipasarkan para petani secara langsung ke pasar - pasar tradisional atau pelaku usaha perikanan.

"Ada dua keuntungan petani dengan menggunakan pola mina padi itu. Pertama panen padi organik yang bernilai ekonomis dan keuntungan kedua yakni panen ikannya. Pengembangan pertanian padi sawah pola mina padi akan terus dikembangkan untuk mensukseskan pengembangan ekonomi kerakyatan yang saat ini dicanangkan Pemerintah Kabupaten Bartim," demikian Riza Rahmadi.

Baca juga: Pemkab Bartim diminta patuhi Inpres terkait evaluasi perijinan kebun sawit

Pewarta :
Editor: Rachmat Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar