Tradisi 'Manuyang Anak' disambut antusias, peserta terpaksa bergantian

id Tradisi 'Manuyang Anak' disambut antusias,Meayun anak,Kotawaringin Timur,Kotim,Sampit,Wakil bupati,Taufiq mukri

Sekretaris Daerah Kotim Halikinnor bersama pejabat lainnya berkeliling melihat peserta tradisi 'Manuyang Anak' atau mengayun anak, Kamis (6/12/2018). (Foto Istimewa)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Tradisi 'Manuyang Anak' atau mengayun anak disambut antusias masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, bahkan sebagian peserta terpaksa bergantian karena jumlah peserta yang datang jauh melebihi ayunan yang disediakan.

"Tahun lalu jumlah peserta sebanyak 90 anak, tahun ini meningkat menjadi 150 anak, tapi yang ditampung hanya 120 anak, jadi sisanya mereka bergiliran," kata Wakil Bupati HM Taufiq Mukri di Sampit, Kamis.

Tradisi 'Manuyang Anak' digelar di Gedung Serbaguna Sampit. Peserta berasal dari sejumlah kecamatan, khususnya yang ada di pusat Kota Sampit yaitu Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Panitia Hari Besar Islam bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotawaringin Timur. Pemerintah daerah terlibat untuk memfasilitasi karena kini tradisi 'Manuyang Anak' menjadi salah satu agenda pariwisata Kotawaringin Timur.

Tradisi bernuansa Islami ini dilaksanakan setiap bulan Rabiul Awal dalam tahun Hijriah atau lebih dikenal dengan bulan Maulid karena juga diperingati sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Karena itulah biasanya tradisi 'Manuyang Anak' didahului dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi 'Manuyang Anak' merupakan simbol kegembiraan dan ungkapan rasa syukur setiap keluarga yang baru dikaruniai anak. Tradisi itu digambarkan dengan mengayun anak dalam suasana kegembiraan.

Ayunan yang akan digunakan biasanya dihiasi dengan berbagai pernak-pernik, termasuk buah, kue tradisional dan lainnya. Di bawah ayunan, disiapkan beberapa benda seperti kelapa, ketan, beras dan lainnya atau yang sering disebut dengan 'piduduk', yang nantinya diberikan kepada bidan yang telah membantu proses persalinan. Penyerahan 'piduduk' itu sering disebut dengan istilah 'bapalas bidan' sebagai bentuk terima kasih.

Saat manuyang atau mengayun anak, orangtua sambil membacakan shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Serangkaian doa pun dipanjatkan agar sang anak menjadi anak yang sukses dan menjadi kebanggaan saat dewasa kelak.

Saat tradisi 'Manuyang Anak' biasanya banyak pula orangtua yang menggunakan kesempatan itu untuk menggelar tasmiyah atau pemberian anak. Serangkaian kegiatan itulah yang membuat tradisi 'Manuyang Anak' semakin meriah sehingga mampu menarik minat wisatawan.

Satu hal menarik yang selalu dilakukan panitia, yakni menyiapkan ayunan berukuran besar yang bisa dinaiki oleh orang dewasa. Taufiq Mukri menjadi salah satu undangan yang mencoba menggunakan ayunan tersebut sehingga kejadian itu mengundang tawa ratusan warga yang memadati tempat kegiatan.

Menurut Taufiq, kegiatan ini menjadi sarana tepat memelihara tradisi budaya yang sejak lama berkembang di masyarakat, khususnya umat Islam di kawasan pesisir atau Melayu. Kegiatan ini juga menjadi potensi yang bisa terus dikembangkan sebagai suguhan wisata religi yang menarik.

"Dinas Kebudayaan dan Pariwisata perlu terus mencarikan pola baru dengan inisiatif, kreatif dan inovasi agar bisa membangkitkan event pariwisata ini sehingga lebih menarik lagi bagi wisatawan nasional dan asing," ucap Taufiq didampingi Sekretaris Daerah Halikinnor.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur terus menggali potensi pariwisata. Sektor ini dikembangkan secara serius karena diyakini akan menjadi sektor andalan baru yang dapat membantu mendongkrak pendapatan asli daerah dan perekonomian masyarakat.

Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar