PT Astra catat pendapatan Rp59,6 triliun

id PT Astra,PT Astra Internasional,PT Astra catat pendapatan Rp59 triliun

Presiden Direktur PT Astra International Tbk (Grup Astra atau Perseroan) Prijono Sugiarto di Jakarta, Kamis (25/4/2019). (ANTARA/Aji Cakti)

Jakarta (ANTARA) - PT Astra International Tbk mencatatkan pendapatan bersih Rp59,6 triliun pada triwulan pertama 2019, dan laba  bersih sebesar Rp5,21 triliun, meningkat lima persen dibandingkan periode yang sama pada 2018 yang sebesar Rp4,98 triliun.

"Kinerja Grup cukup baik pada kuartal pertama 2019 didukung oleh peningkatan kontribusi dari bisnis jasa keuangan serta kontraktor penambangan, serta kontribusi dari bisnis tambang emas yang baru diakuisisi," kata Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto di Jakarta, Kamis.

Pendapatan bersih sebesar Rp59,6 triliun pada periode triwulan pertama tahun ini naik tujuh persen dibandingkan pendapatan bersih periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp55,82 triliun, dengan pendapatan yang lebih tinggi pada hampir semua segmen bisnis terutama dari divisi bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi serta divisi jasa keuangan.

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup Astra selama triwulan pertama 2019 tercatat sebesar Rp1,4 triliun, meningkat 32 persen dari laba bersih periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,06 triliun.

Laba bersih bisnis dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Grup naik pada triwulan pertama tahun ini tercatat Rp1,82 triliun, naik 20 persen dari laba bersih periode sama tahun lalu sebesar Rp1,51 triliun.

"Untuk periode sepanjang tahun ini, Grup diperkirakan masih akan menikmati kenaikan kontribusi dari bisnis-bisnis tersebut, meskipun masih ada tantangan pada permintaan yang melemah dan persaingan ketat di pasar mobil serta penurunan harga komoditas," ujar Prijono.

Laba bersih triwulan pertama 2019 dari segmen agribisnis Grup turun drastis menjadi Rp30 miliar, sedangkan laba bersih triwulan pertama dari bisnis otomotif grup turun menjadi Rp1,9 triliun.

Penurunan dalam bisnis otomotif tersebut disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil dan kenaikan biaya material pada bisnis manufaktur.

Pewarta :
Uploader : Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar