Lazio lolos hukuman bertanding akibat pelecehan rasial yang dilakukan pendukungnya

id Lazio,pelecehan rasial,lolos hukuman bertanding

Lazio lolos hukuman bertanding akibat pelecehan rasial yang dilakukan pendukungnya

Logo anti-rasisme UEFA (uefa.com)

Jakarta (ANTARA) - Klub Lazio lolos dari hukuman bertanding tanpa stadion setelah pendukung mereka melakukan pelecahan rasial terhadap dua pemain tuan rumah AC Milan pada pertandingan leg kedua semifinal Coppa Italia dua minggu lalu di San Siro.

Dikutip dari Reuters, pengadilan disiplin liga Italia menyatakan, Lazio harus menggelar satu pertandingan kandang di Stadion Olimpiade tanpa kehadiran penonton jika ada insiden berulang dalam tahun depan.

Pengadilan itu mengatakan dua pemain AC Milan, Tiemoue Bakayoko dan Franck Kessie menjadi sasaran pelecehan rasial sebelum dan selama pertandingan Rabu di San Siro dari "hampir semua" dari 4.000 pendukung Lazio di laga tandang.

Dikatakan bahwa nyanyian tersebut dapat didengar "oleh semua orang" di stadion.

Baca juga: Ringkasan hasil Piala Italia, Atalanta tantang Lazio di final

Lazio, yang mengalahkan Milan 1-0 untuk lolos ke final melawan Atalanta, menyalahkan "elemen-elemen terisolasi" atas insiden tersebut.

Namun, direktur olahraga Milan, Leonardo Araujo mengatakan setelah pertandingan bahwa itu "konyol" jika wasit tidak menghentikan pertandingan.

"Ada seribu alasan untuk menghentikan pertandingan," katanya kepada Gazzetta dello Sport.

"Dengan aturan baru, tidak perlu menunggu putaran kedua atau ketiga teriakan penonton, yang pertama cukup bagi tim ke tengah lapangan dan membuat pengumuman."

"Dalam kasus lebih banyak teriakan penonton, pertandingan harus dihentikan tanpa batas waktu. Tapi tidak ada yang tindakan. Semua orang mendengar penghinaan rasial dan suara-suara (menirukan) monyet."

Sebelum pertandingan, sekelompok penggemar Lazio tertangkap kamera di pusat kota sambil membawa spanduk yang menghormati Benito Mussolini.

Mussolini yang bernama lengkap Benito Amilcare Andrea Mussolini adalah seorang politisi Italia dan menjadi diktator pada periode 1922-1943.