Petani Kotim diimbau mewaspadai kekeringan

id Penanaman padi Kotim tidak bisa serentak,Padi,Dinas pertanian,Kotawaringin Timur,Kotim,Made Dikantara,Sampit

Kepala Dinas Pertanian Kotawaringin Timur K Made Dikantara. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (ANTARA) - Penanaman padi di Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah tidak bisa dilakukan serentak lantaran petani harus benar-benar memperhitungkan waktu yang tepat dan aman untuk menanam agar tidak sampai gagal panen akibat kekeringan.

"Kalau salah perhitungan, padi belum terlalu besar saat kemarau. Belum lagi ancaman kekeringan yang sering terjadi. Makanya ini harus benar-benar diperhitungkan," kata Kepala Dinas Pertanian Kotawaringin Timur I Made Dikantara di Sampit, Minggu.

Untuk musim tanam asep atau April-September, saat ini sudah ada sekitar 1.500 hektare padi yang ditanam petani Kotawaringin Timur. Mulai bulan depan, diperkirakan ada sekitar 5.000 hektare padi yang akan ditanam petani.

Saat kemarau, penanaman padi lebih diarahkan ke kawasan Utara mulai dari Kecamatan Kotabesi dan kecamatan lainnya di hulu. Kawasan ini biasanya masih cukup aman dalam hal ketersediaan air.

Kondisi berbeda di kawasan Selatan karena sebagian wilayahnya sering dilanda kekeringan. Air sungai juga tidak bisa digunakan karena berasa asin akibat intrusi atau bercampur air laut yang masuk ke alur sungai.

"Kalau masalah kekeringan, masih bisa diatasi dengan menyedot air dari sungai menggunakan mesin pompa, selama airnya masih ada. Tapi kalau airnya sudah asin, itu tidak bisa karena tanaman akan mati," kata Made.

Dinas Pertanian Kotawaringin Timur terus mendorong dan membantu petani untuk meningkatkan produksi. Khusus untuk komoditas padi, Kotawaringin Timur sudah mampu surplus dalam beberapa tahun terakhir.

Kotawaringin Timur juga mendorong pengembangan padi organik. Sebelumnya, sudah ada 5.000 hektare padi organik yang ditanam di kawasan selatan, khususnya di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit.

Pengembangan pertanian organik juga untuk mendukung program kesehatan. Bahan pangan berperan cukup besar terhadap kondisi kesehatan, bahkan mempengaruhi usia harapan hidup masyarakat.

"Usia harapan hidup di Palangka Raya 70 tahun, sedangkan di daerah kita tidak sampai 70 tahun. Makanya kita mendukung dari sisi penyediaan pangan lebih berkualitas," demikian Made.

Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar