Santri di Kotim dibekali pengetahuan pengelolaan gambut

id Badan Restorasi Gambut bekali santri Kotim pengetahuan pengelolaan gambut,Karhutla,Sampit,Kotim,Kotawaringin Timur,Darul amin,Pondok pesantren,Kebakar

Santri dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Amin berfoto bersama narasumber dan undangan saat sosialisasi pengelolaan lahan gambut, Selasa (13/8/2019). (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut menggelar sosialisasi pengelolaan lahan gambut tanpa bakar kepada santri di Pondok Pesantren Darul Amin Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah.

"Kami memilih sosialisasi kali ini di pesantren agar santri memiliki pengetahuan tentang bagaimana mengelola gambut secara benar. Harapannya, ketika mereka dewasa nanti sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga gambut," kata Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut Myrna A Safitri di Sampit, Selasa.

Sosialisasi yang diikuti lebih dari seratus santri tersebut dihadiri pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama Pusat Asep Irfan, Ketua PC Nahdlatul Ulama Kotawaringin Timur H Samsudin, pengurus LPP NU Provinsi Kalteng Muhammad Anwar, Kepala Pokja Edukasi dan Sosialisasi Badan Restorasi Gambut Suwignya Utama, pengurus TRGD Provinsi Kalimantan Tengah Arifin Setiawan dan pimpinan serta pengasuh Pondok Pesantren Darul Amin Sampit.

Myrna mengatakan, tanah gambut mempunyai kemampuan mengikat beberapa gas berbahaya, termasuk karbon dan sianida. Tapi ketika gambut terbakar maka gas itu turut keluar dan rawan terhirup oleh manusia.

Dampak yang terjadi saat ini diantaranya berbagai penyakit seperti batuk dan flu, namun dikhawatirkan ada dampak lebih parah yang baru akan terlihat pada 10 hingga 20 tahun kemudian.

Badan Restorasi Gambut yang dibentuk 2016 lalu, terus berupaya mengajak dan membina masyarakat untuk memelihara dan menyelamatkan gambut sehingga terhindar dari bencana kebakaran lahan dan kabut asap.

Upaya-upaya itu dilakukan di seluruh wilayah kerja Badan Restorasi Gambut yang meliputi Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Jambi, Sumatera Selatan dan Riau.

Ada kecenderungan petani membakar lahan karena dinilai merupakan cara gampang dan dianggap membuat tanah subur karena keasaman gambut tinggi. Namun kini fungsi gambut mulai rusak maka dibakar sedikit saja akan berbahaya karena api tidak akan terkendali, apalagi kalau dibakar secara massal.

"Gambut yang sudah dirawat tidak akan menjadi apa-apa kalau perilaku kita tidak berubah. Jangan membakar lahan. Kami berharap santri menyampaikan kepada orangtua atau masyarakat agar kita sama-sama menjaga gambut," ajak Myrna.

Baca juga: Puntung rokok pun bisa picu kebakaran lahan

Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama Pusat Asep Irfan mengatakan, Nahdlatul Ulama berkomitmen untuk membantu pelestarian lingkungan, termasuk dalam hal menjaga dan mengelola gambut secara benar sehingga terhindar dari kerusakan.

"Membakar lahan gambut, sama saja berarti kita tidak bersyukur. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini karena dampaknya dirasakan masyarakat luas," kata Asep Irfan.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amin Sampit Ustaz Ahmad Royyan Zuhdi Abrar menyambut positif kegiatan tersebut. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengingatkan semua orang tentang bahaya jika gambut terbakar sehingga semua ada rasa kepedulian untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.

"Santri kami ini kan berasal dari berbagai desa dan kecamatan. Dengan mengikuti kegiatan ini, diharapkan mereka mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan gambut secara benar sehingga bisa disebarkan kepada masyarakat di daerah masing-masing," demikian Ahmad Royyan.


Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar