Kasus penembakan seorang warga Kotim diselesaikan secara kekeluargaan

id DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur,DPRD Kotim,Kotim,Ketua Sementara DPRD Kotim,Rimbun

Kasus penembakan seorang warga Kotim diselesaikan secara kekeluargaan

Ketua Sementara DPRD Kabupaten Kotim Rimbun (dua dari kiri) ketika melayat korban tewas di tembak beberpa waktu lalu. (ANTARA/HO-DPRD Kotim)

Sampit (ANTARA) - Ketua Sementara DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rimbun mengaku sedang berupaya memfasilitasi penyelesaian kasus tertembaknya seorang warga bernama M Kusnadi oleh aparat kepolisian.

Memfasilitasi penyelesaikan masalah tersebut sangat diperlukan karena provokasi mulai banyak beredar dan dikhawatirkan mengganggu suasana kondusif di kabupaten ini, kata Rimbun di Sampit, Selasa.

"Aparat terpaksa menembak Kusnadi kan karena berupaya melawan dan menyerang dengan menggunakan parang. Jadi, kami ingin masalah ini diselesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan," ucapnya.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu pun berinisiatif memfasilitasi serta mempertemukan pihak keluarga korban dengan aparat kepolisian. Langkah tersebut agar kasus tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan damai.

Rimbun mengatakan kejadian tertembaknya Kusnadi merupakan sebuah insiden, diluar dugaan serta tidak dikehendaki. Untuk itu, penyelesaian damai dan kekeluargaan menjadi jalan terbaik terhadap penyelesaian kasus tersebut agar tidak berlarut-larut.

"Keluarga korban dan masyarakat harapannya bisa memahami kejadian sebenarnya, dan selalu tunduk serta patuh pada aturan hukum. Untuk tidak memperpanjang kasus meninggalnya Kusnadi," ucapnya.

Ketua Sementara DPRD Kotim itu pun meminta masyarakat dapat menahan diri dan tidak terprovokasi terhadap isu maupun informasi yang berlum jelas kebenarannya. Masyarakat harus bersama-sama bergandengan tangan menjaga Kabupaten Kotim tetap kondusif.

"Jangan ada tindakan yang bersifat provokatif memanfaatkan isu dan informasi yang tidak jelas, sehingga membuat situasi daerah jadi tidak aman. Kami berbela sungkawa atas kejadian itu. dan mari kita serahkan proses hukumnya kepada yang berwenang," tegasnya.

Di sisi lain, Rimbun juga menekankan agar aparat yang bertugas di lapangan, khususnya di lokasi perusahaan perkebunan, agar bersikap profesional dalam menjaga dan mengayomi masyarakat, sehingga kejadian serupa tidak perlu terulang lagi.

Baca juga: DPRD Kotim usulkan peresmian pimpinan definitif

Selain aparat yang bertugas di lapangan, pihak perusahaan juga diminta untuk tidak bertindak semena-mena, terutama terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan.

"Perusahaan juga harus intrsfeksi diri, mengapa di wilayahnya terjadi pencurian, mungkin karena adanya kesenjangan ekonomi sehingga membuat masyarakat bertindak nekat," kata Rimbun.

Dia juga meminta kepada pemerintah kabupaten untuk mengevaluasi dan memeriksa kembali perizinan yang dimiliki perusahaan tersebut. Sebab, informasinya perusahaan tersebut ada menggarap lahan di luar hak guna usaha (HGU) yang telah diberikan, sehingga ada beberapa lahan milik warga turut tergarap.

"Pemkab juga hendaknya tidak tinggal diam dan wajib memberikan perlindungan terhadap masyarakatn ketimbang perusahaan sawit atau investor, yang belum tentu memberikan keuntungan bagi daerah," kata Rimbun.

Sebelumnya korban tewas ditembak polisi di areal perusahaan perkebunan sawit pada Jumat (13/9) di Desa Biru Maju, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotim. Korban diduga terlibat dalam pencurian buah sawit. Dan saat akan diamankan, korban melukai petugas sehingga tindakan tegas diambil.

Baca juga: Di luar dugaan, PDIP tunjuk Rini pimpin DPRD Kotim

Baca juga: DPRD minta Kotim siagakan puskesmas 24 jam tangani korban terpapar asap

Pewarta :
Uploader : Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar