Kapal batu bara di DAS Barito berhenti beroperasi akibat kemarau

id Dinas perhubungan, kapal, kapal angkutan, batu bara, penumpang, barang, kargo, pelabuhan, surut, kemarau, karhutla, kebakaran lahan, kebakaran hutan

Kapal batu bara di DAS Barito berhenti beroperasi akibat kemarau

Sebuah kapal menarik tongkang bermuatan batu bara di Sungai Barito melintasi wilayah Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara. (Dok/ANTARA/Kasriadi)

Palangka Raya (ANTARA) - Berdasarkan informasi yang diterima Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Tengah, sejumlah kapal pengangkut batu bara di daerah aliran sungai (DAS) Barito berhenti beroperasi untuk sementara.

"Tidak beroperasi sementara adalah angkutan batu bara di DAS Barito, seperti Murung Raya, Barito Utara serta Barito Timur," kata Kepala Dinas Perhubungan Kalteng Ati Mulyati melalui Kepala Bidang Pelayaran Syahrani di Palangka Raya, Rabu.

Para pemilik kapal terpaksa menghentikan aktivitasnya untuk sementara waktu selama kemarau, sebab debit air sungai yang biasa mereka lalui mengalami penurunan atau surut. Umumnya kapal hanya ditambatkan di bagian hulu perairan yang masih dalam.

Namun tidak semuanya berhenti beroperasi, meski kemarau masih ada sejumlah kapal angkutan batu bara yang tetap berlayar, karena letak pelabuhannya berada di sungai yang kedalamannya memadai.

"Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, memang ada pelabuhan yang berada di perairan yang debit airnya cukup dalam, sehingga efektif untuk pelayaran selama satu tahun. Namun ada pula yang hanya efektif selama tujuh bulan dan terbukti seperti saat ini," ungkapnya.

Sementara itu, untuk kapal angkutan penumpang maupun barang, umumnya masih beroperasi meski kemarau. Baik yang berada di Pelabuhan Sampit Kotawaringin Timur, Kumai Kotawaringin Barat serta Bahaur Pulang Pisau.

Hanya saja jadwal keberangkatan tiap kapal diakui tidak selancar biasanya, sebab terlebih dulu harus melihat kondisi debit air sungai sebelum melakukan pelayaran.

"Apabila kondisinya sedang surut dan tidak memungkinkan untuk berlayar, maka terlebih dulu akan menunggu debit air kembali naik, barulah pelayaran kembali dilanjutkan," terangnya kepada ANTARA.

Sementara itu berkaitan dengan kondisi asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pihaknya juga telah berkoordinasi dengan tiap Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di masing-masing wilayah, untuk memberikan imbauan maupun peringatan kepada seluruh angkutan agar berhati-hati.

"KSOP telah memberi peringatan kepada setiap operator maupun penyedia angkutan, agar selalu berhati-hati saat berlayar guna mencegah terjadinya kecelakaan. Mulai dari pengaktifan komunikasi hingga menyalakan lampu kapal," jelasnya.

Pewarta :
Uploader : Admin 4
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar