Mahasiswa Kotim desak pemerintah hentikan penerbitan izin perkebunan kelapa sawit

id Pemkab kotim, kotim, kotawaringin timur, sampit, aksi, demo, karhutla, korporasi, mahasiswa, izin perkebunan, kelapa sawit, kebakaran hutan, kebakaran

Mahasiswa Kotim desak pemerintah hentikan penerbitan izin perkebunan kelapa sawit

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam HMI Kabupaten Kotawatingin Timur menggelar aksi damai mendesak pemerintah kabupaten untuk segera dan serius menangani karhutla, Sampit, Jumat, (21/9/2019). (ANTARA/Untung Setiawan)

Sampit (ANTARA) - Mahasiswa yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mendesak pemerintah daerah untuk serius menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi selama ini.

"Guna mencegah karhutla yang terus terjadi, salah satunya, kami mendesak pemda menghentikan penerbitan izin pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit," kata perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kotim Burhani Nurohman di Sampit, Sabtu.

Pihaknya juga menginginkan penegakan hukum terhadap kasus karhutla dan pemerintah harus melakukan pemulihan ekosistem alam akibat karhutla. Selama ini kejadian itu telah merusak lingkungan dan memperburuk kualitas udara.

Menurut Burhan, karhutla yang selama ini terjadi di Kotim, diduga disebabkan pembukaan lahan yang akan ditanami sawit, untuk itu pemda harus menghentikan penerbitan izin dan mengevaluasi kembali seluruh perizinan perkebunan sawit.

Selain itu, selama ini penanganan karhutla yang dilakukan pemda hanya sebatas melakukan pemadaman api, namun tidak pernah dilakukan pemulihan alam yang rusak akibat terbakar.

Untuk menyampaikan aspirasi tersebut, dirinya bersama puluhan mahasiswa lainnya yang tergabung dalam HMI Kotim telah melakukan aksi di depan kantor bupati setempat pada Jumat (21/9). Aksi damai itu, dikawal ketat oleh puluhan aparat kepolisian.

Dalam aksi damai itu, mahasiswa membawa spanduk bertuliskan selamatkan kami dari asap, jangan bakar hutan kami, peduli kebakaran, peduli kemanusiaan hingga alam kami kehidupan kami.

Mahasiswa juga membawa keranda mayat sebagai simbol matinya hati nurani dan lemahnya pemerintah dalam menangani karhutla. Pemda juga diminta waspada karena hutan dan lahan bekas terbakar diduga bakal ditanami sawit.

Ia menegaskan, salah satu tugas mahasiswa adalah mengkritik pemerintah, jadi pemerintah hendaknya tak perlu alergi jika dikritik. Mahasiswa turun ke jalan untuk menyampaikan hak aspirasinya, karena sudah cukup banyak masyarakat yang menjadi korban akibat asap.

Pada saat aksi tersebut, pihaknya menuntut agar bupati menemui mereka, namun tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Para mahasiswa itu, hanya ditemui oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kotim Multazam. Multazam berjanji akan menyampaikan tuntutan yang mahasiswa sampaikan kepada bupati. 

 

Pewarta :
Uploader : Admin 4
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar