Warga Buntok ini jalani cuci darah tanpa dipungut biaya

id bpjs kesehatan muara teweh,warga buntok,cuci darah,di jamin jk-kis

Warga Buntok ini jalani cuci darah tanpa dipungut biaya

Ash Shabri (kanan) didampingi istrinya dengan senang hati berbagi pengalamannya sebagai peserta JKN-KIS sejak terdaftar dari segmen peserta mandiri pada akhir 2014 lalu yang terbantu karena harus menjalani cuci darah di kediamannya di Buntok,Jumat (13/09/2019).ANTARA/HO-BPJS-Kesehatan Muara Teweh.

Buntok (ANTARA) - Memasuki tahun ke-6 program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) BPJS Kesehatan berjalan, kini manfaat nyatanya telah dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, salah satunya Ash Shabri (45) warga Buntok Kabupaten Barito Selatan dengan senang hati berbagi pengalamannya sebagai peserta JKN-KIS sejak terdaftar dari segmen peserta mandiri pada akhir 2014 lalu.

"Awal 2016 saya opname selama 11 hari di RS Jaragah Sasameh Buntok, badan sering panas, tekanan tinggi dan gula darah tinggi kemudian dirujuk ke rumah sakit Anshari Saleh Banjarmasin selama enam hari dan semua biaya ditanggung penuh oleh JKN-KIS," ucap Ash Shabri saat ditemui di kediamannya Jalan Karang Paci Buntok,Jumat (13/09).

Dari keterangan dokter, Ash Shabri menceritakan saat itu ada gangguan pencernaan dan masalah di lambungnya sehingga setiap bulan tidak lepas dari pengobatan dan kunjungan ke rumah sakit. Memasuki Agustus 2017 berdasarkan hasil tes darah dan pemeriksaan ginjal, Ash Shabri harus menjalani cuci darah karena ada masalah dengan ginjalnya.

"Sejak Agustus 2017 saya harus cuci darah sebanyak dua minggu sekali dan kini sudah berjalan selama 2 tahun lebih. Tidak ada sedikitpun uang keluar dari saku melainkan lagi-lagi ditanggung penuh oleh JKN-KIS," kata bapak dua orang anak tersebut.

Ia sangat bersyukur karena dengan pekerjaannya sebagai guru mengaji dapat ikut serta dalam program JKN-KIS dan merasakan manfaatnya yang tidak terhitung lagi banyaknya.

"Alhamdulillah sekarang BPJS Kesehatan melalui program JKN-KIS mempermudah akses pelayanan kesehatan dan telah menolong saya sebagai rakyat kecil biasa, enggak kerja orang kantoran, enggak pengusaha, dengan kerja hanya sebagai guru ngaji saja, saya sangat berterima kasih," ucapnya.

Ia juga merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan dan menurutnya diperlukan pemahaman akan prosedur sekaligus kesabaran dalam menjalani proses pengobatan.

"Jika ada orang diluar sana yang masih mengeluh dengan pelayanan yang tidak memuaskan mungkin masih kurangnya pemahaman, buktinya kami sendiri tidak ada merasa dipersulit dan telah merasakan kenyamanannya. Jika kita sabar dan ikhlas menjalani pengobatan sesuai prosedurnya pasti merasakan langsung kemudahannya," terangnya.

Berbincang mengenai penyesuaian iuran, Ash Shabri menyebut iuran yang dibayarkannya sekarang tentu tidak sebanding dengan biaya yang telah ditanggung oleh program JKN-KIS sehingga meskipun ada penyesuaian hal tersebut merupakan hal yang wajar.

Dirinya sebagai peserta mandiri dengan iuran Rp320.000 per bulan untuk orang berempat tidak sebanding dengan biaya dalam sekali cuci darah yang mencapai hingga jutaan rupiah dan tidak dapat dibayangkan apabila tidak ada program JKN-KIS. 

"Kami harus bayar biaya cuci darah delapan kali dalam sebulannya. Penyesuaian iuran itu wajar dan masih ada solusi untuk menyesuaikan kemampuan membayar sesuai dengan iuran kelasnya. Jika diberikan pilihan, saya tentu memilih sehat dan terus rutin membayar iuran, harapannya program JKN-KIS terus berjalan dan kita senantiasa diberikan kesehatan dan kemampuan dalam membayar iuran sebagai bentuk gotong royong dan beramal kebaikan bagi sesama," ujarnya. 

Pewarta :
Uploader : Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar