Serangan jantung masih bisa menyerang orang yang rajin latihan fisik

id Serangan jantung,rajin latihan fisik,olahraga,Serangan jantung masih bisa menyerang orang yang rajin latihan fisik

Serangan jantung masih bisa menyerang orang yang rajin latihan fisik

Pria mengalami serangan jantung saat olahraga (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Meninggalnya selebritas Ashraf Sinclair pada Selasa (18/2) karena serangan jantung memunculkan tanya, mengapa mendiang yang dikenal rutin melakukan aktivitas fisik tetapi masih bisa terkena serangan jantung?

Tak hanya Ashraf, beberapa orang ternama antara lain Adjie Massaid dan kiper asal Spanyol Iker Casillas juga diketahui terkena serangan serupa (Iker berhasil selamat dari serangan jantung) padahal mereka rajin beraktivitas fisik.

Berkaitan dengan hal ini, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Premier Bintaro, Jakarta, Hario Tilarso mengatakan, latihan fisik sebenarnya jarang berakibat fatal pada kesehatan seseorang semisal serangan jantung kecuali orang itu punya kelainan jantung.

"Latihan yang berat jarang bisa fatal, kecuali yang bersangkutan punya kelainan jantung. Yang bisa menentukan penyebab kematian adalah autopsi," kata dia saat dihubungi ANTARA, Rabu.

Baca juga: Ini yang dilakukan Ashraf Sinclair empat hari sebelum meninggal

Serangan jantung, seperti dilansir dari Mayo Clinic terjadi ketika aliran darah ke jantung tersumbat.

Penyumbatan paling sering karena penumpukan lemak, kolesterol dan zat-zat lain, yang membentuk plak di arteri (arteri koroner).

Kurangnya melakukan aktivitas fisik dan gaya hidup tak sehat lainnya semisal merokok bisa menjadi faktor risiko seseorang mengalami serangan jantung.

Namun, jika dua faktor risiko itu tak ada, masih ada faktor lainnya yakni riwayat keluarga (orang tua, kakek atau nenek) mengalami serangan jantung dan stres.

Di sisi lain, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, yakni DVT atau deep vein thrombosis. Kondisi ini terjadi akibat vena bagian dalam tungkai dan panggul mengalami pembekuan darah, menghambat atau mengganggu aliran darah di vena.

DVT salah satunya bisa dialami pada orang yang duduk terlalu lama misalnya di pesawat saat menjalani perjalanan jauh.

Baca juga: Yang harus dilakukan setelah selamat dari serangan jantung

Ashraf diketahui beberapa waktu lalu bepergian ke Amerika Serikat bersama istrinya, Bunga Citra Lestari (BCL) untuk menghadiri pagelaran New York Fashion Week 2020. Dia dan BCL pulang ke Indonesia pada 15 Februari 2020.

"Yang bersangkutan baru pulang dari Amerika (lebih dari 12 jam terbang). Duduk lama di pesawat dapat terjadi DVT, terbentuknya gumpalan darah yang bisa menyebabkan sumbatan pembuluh darah," tutur Hario.

Laman Healthline menyebut, DVT mungkin tidak bergejala tetapi pada beberapa kasus, penderita bisa mengalami pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki, kram dan ada bagian kulit yang berubah pucat, atau berubah menjadi warna kemerahan atau kebiruan.

Untuk mencegah DVT, terutama saat melakukan perjalanan jauh, orang-orang perlu memenuhi asupan cairan mereka, menggunakan pakaian yang longgar dan bergerak setidaknya setiap 90 menit agar aliran darah tak terhambat.

Baca juga: Bolehkah pasien gangguan irama jantung minum kafein?

Tips aman saat latihan fisik

Menurut Hario, sebelum melakukan melakukan aktivitas fisik, tidak ada salahnya jika Anda berkonsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan resep latihan yang sesuai kondisi Anda.

Namun, sebenarnya ada jenis aktivitas yang sifatnya relatif aman untuk semua orang yakni berjalan kaki, karena sifatnya terus menerus dan cenderung tidak ada gerakan yang tiba-tiba.

Durasi aktivitas fisik yang disarankan untuk orang berusia 18-64 tahun yakni selama 150 menit setiap minggu. Rinciannya, kegiatan itu dilakukan selama 30 menit dalam lima kali sepekan.

Untuk anak berusia 5-17 tahun, latihan fisik dengan intensitas sedang dan tinggi dianjurkan selama 60 menit selama satu hari. Latihan fisik itu mengacu pada kegiatan aerobik, termasuk bermain yang meliputi gerak olah tubuh.

Sementara, seseorang berusia di atas 64 tahun dapat melakukan olahraga dengan durasi seperti mereka yang berusia 18-64 tahun. Hanya saja, para lansia yang melakukan kegiatan olahraga harus menyesuaikan dengan kondisi tubuh mereka.

"Berlatih sesuai kemampuan, latihan tetap dilakukan usia berapapun, sesuaikan beban latihan dengan usia dan kondisi," tutur Hario.

Baca juga: Atasi gangguan irama jantung bisa tanpa obat

Baca juga: Manfaat buah naga untuk diabetes hingga jantung

Baca juga: ASN paling banyak menderita penyakit jantung

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar