Digitalisasi menjadi penopang Ida Lestari pertahankan usaha di kala pandemi

id Ida lestari, online shop sampit, pandemi covid 19, digitalisasi, dagangan online, usaha online, kalteng, sampit, kotawaringin timur, kalimantan tengah

Digitalisasi menjadi penopang Ida Lestari pertahankan usaha di kala pandemi

Ida Lestari menata jualannya di rumah, Sampit, Jumat, (30/7/2021). (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Sampit (ANTARA) - Ida Lestari (27) seorang istri dan ibu dari satu orang anak di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah masih terus berusaha mempertahankan, bahkan mengembangkan usaha yang dimiliki meski di tengah pandemi COVID-19.

Usaha yang ia jalankan adalah menjual pakaian anak-anak usia 0-12 tahun dengan sasaran utama adalah masyarakat di kota setempat.

Sejak awal memulai usaha tersebut, Ida memilih sistem berjualan secara daring atau online, memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi di era digital.

Lapak dagangan yang ia miliki secara daring tersebut dimulai sejak tahun 2018 lalu sebelum pandemi COVID-19 melanda, yakni bernama 'KidsNay'.

Usaha yang dijalankan tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup bagus, terbukti dengan mulai banyaknya masyarakat yang mengetahui dan membeli dagangannya, hingga menjadi pelanggan.

Bahkan seiring berjalannya waktu, jika dirata-ratakan setiap harinya ada saja konsumen atau pelanggan yang membeli dagangan di lapak daring yang ia miliki.

Hingga pada akhirnya pandemi COVID-19 melanda Indonesia, termasuk Kota Sampit. Kondisi daerah yang dilanda pandemi membuat semua menjadi lebih terbatas, hingga mengakibatkan perekonomian menurun.

Ida Lestari mengaku usaha yang ia jalankan juga turut terdampak pandemi COVID-19, sama seperti pada umumnya yang rata-rata usaha masyarakat terkena imbas pandemi.

Akibat pandemi berkepanjangan dan membuat adanya pembatasan-pembatasan dalam berbagai sektor, mengakibatkan kondisi perekonomian tak seperti waktu sebelum pandemi.

Menurutnya daya beli masyarakat yang mulai melemah, mengakibatkan pembelian pakaian anak yang dijual juga turut menurun sehingga tidak seperti biasanya.

Penjualan bahkan menurun hingga 50 persen bahkan lebih, padahal harga pakaian anak yang dijual cukup terjangkau, berkisar antara Rp35-185 ribu.

"Sebelum pandemi hampir setiap hari ada saja pembeli datang ke rumah atau diantar. Sekarang dalam seminggu, hanya ada sekitar tiga pembeli bahkan kadang tidak ada sama sekali," terangnya.

Selain itu ia harus menghadapi tantangan seperti stok baju yang menumpuk akibat menurunnya daya beli, sedangkan model baju selalu diperbaharui terlebih untuk baju anak-anak.

Walaupun demikian, ia mengaku tak pernah menyerah ataupun terpikir untuk beristirahat apalagi berhenti berjualan secara online.

Ida menganggap, naik turunnya usaha yang dijalankan merupakan sebuah tantangan dan risiko yang memang harus dihadapi.

Hanya saja tantangan kali ini cukup besar serta durasi waktu yang tak sebentar, mengingat pandemi tak hanya melanda masyarakat di Sampit saja, tapi Indonesia bahkan dunia.

Tetapi ia mengaku sedikit lebih lega, lantaran usaha yang dimulai sejak 2018 tersebut memang berbasis online, sehingga sangat sesuai dengan pola pemasaran atau penjualan yang paling disarankan di masa pandemi maupun era digital.

"Digitalisasi ini menjadi penopang usaha kami tetap bisa bertahan di tengah pandemi. Kami tetap bisa memasarkan dagangan meski di tengah berbagai kebijakan pembatasan oleh pemerintah," jelasnya.

Kendati jumlah dagangan yang terjual tak seperti biasanya, namun usaha tersebut tetap saja bisa bertahan dan hasilnya mampu membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Ida bahkan menyadari bahwa era digitalisasi saat ini mengaharuskan masyarakat untuk terus berpacu dengan meningkatkan keterampilan digital.

"Beruntung saya memiliki suami yang cukup handal di bidang teknologi informasi, sehingga ia dapat mendukung usaha dagangan online kami memanfaatkan digitalisasi," ungkapnya.

Ida dibantu sang suami, terus berusaha mempertahankan usaha maupun mengembangkannya memanfaatkan digitalisasi. Mereka sadar harus terus kreatif serta inovatif, sehingga bisa terus maju dan beradaptasi dengan kondisi saat ini.

Hasilnya, terbukti 'KidsNay' tetap bisa bertahan dan eksis di dunia online shop di Kota Sampit walaupun pandemi belum jua berakhir.

Selain itu pola berjualan secara online cukup menenangkan bagi dirinya dan keluarga, karena interaksi dengan orang lain menjadi lebih minim, sehingga potensi terkena paparan virus Corona semakin bisa diminimalisir.

Mereka juga secara disiplin mengikuti anjuran pemerintah agar disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, hingga menjauhi kerumunan.

Dijelaskannya, selain melayani pembelian secara daring, pakaian yang mereka jual juga bisa dibeli langsung ke rumah, namun tentunya dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

"Hanya saja di masa pandemi ini orang yang berbelanja langsung ke rumah sangat jarang, karena rata-rata orang lebih memilih transaksi secara online," katanya.

Semangat dan pola berjualan secara online ini, sesuai dengan apa yang diharapkan Presiden Joko Widodo yang telah mencanangkan Gerakan Nasional Literasi Digital.

Melalui gerakan tersebut presiden menginginkan agar masyarakat semakin cakap digital dan mampu memaksimalkan dunia digital dalam meraih berbagai manfaat ataupun hal yang positif, baik untuk diri sendiri maupun keluarga serta orang sekitar.

Pewarta :
Uploader : Admin 4
COPYRIGHT © ANTARA 2021