Deteksi gangguan depresi lewat urine

id gangguan depresi,Deteksi gangguan depresi ,Deteksi gangguan depresi lewat urine,kesehatan mental

Deteksi gangguan depresi lewat urine

Mahasiswa Univrsitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang meneliti deteksi gangguan depresi lewat urine pasien (ANTARA/HO/UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG/END)

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meneliti gangguan depresi pada seseorang yang dapat dideteksi melalui urine yang bersangkutan (pasien).

Salah seorang anggota tim peneliti, Uswatun Hasanah di Malang, Selasa, mengemukakan depresi merupakan gangguan kejiwaan yang seringkali dialami oleh sebagian masyarakat. Namun, di Indonesia belum ada alat diagnosis gangguan depresi yang cepat dan tepat dengan menggunakan laboratorium.

"Melihat permasalahan ini, kami mencoba melakukan penelitian untuk mengembangkan diagnosis laboratorium pasien depresi dengan menggunakan urine pasien," katanya.

Proses diagnosis gangguan depresi saat ini masih menggunakan skala dan kluster gejala dari pasien saja. Hal ini membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan uji laboratorium.

Baca juga: Mahasiswa UB membuat krim antijerawat dari kulit durian

Karena itu, Uswatun dan timnya meneliti perubahan urine dari orang normal ke pasien gangguan depresi untuk uji coba laboratorium.

“Untuk mendeteksi gangguan depresi pada pasien, kami menggunakan Biomarker N-Methylnicotinamid & Hippuric Acid," ujarnya.

Setelah tiga bulan melakukan penelitian, kata Uswatun, timnya dapat menarik kesimpulan bahwa kadar biomarker n-methyl dan hippuric pada pasien gangguan depresi mengalami peningkatan ketimbang orang normal. Hal ini bisa menjadi acuan untuk mendiagnosis pasien gangguan depresi dengan menggunakan uji laboratorium.

Mahasiswa Prodi Kedokteran UMM ini menceritakan penelitian ini sempat terkendala oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Dengan adanya PPKM, timnya tidak bisa melakukan penelitian di rumah sakit (RS) dan mendapatkan sampel urine pasien gangguan depresi.

“Waktu penelitian kami terbatas dan PPKM menjadi kendala terbesar untuk melanjutkan penelitian. Setelah tim kami mencari informasi ke beberapa dokter, akhirnya kami bisa melakukan penelitian dan mendapat sampel urine di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan,” ujarnya.

Penelitian terkait deteksi gangguan depresi lewat urine itu diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dan mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Dalam penelitian tersebut, Uswatun ditemani oleh empat mahasiswa lainnya, yaitu Al-Bidarri Tsamira Annafila, Handini Risma Hani, dan Sekar Asih dari Prodi kedokteran serta Nadila Apriola Susanto dari Fakultas Psikologi.

“Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya para psikiater dan psikolog dalam mendiagnosis pasien gangguan depresi. Ke depannya penelitian ini juga bisa ditindaklanjuti untuk pembuatan kit penunjang diagnosis, sehingga para pasien gangguan depresi mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat,” ucapnya.*

Baca juga: Mahasiswa UGM olah limbah kulit durian jadi pot ramah lingkungan

Baca juga: Produk pasta gigi ciptaan mahasiswa FTUI

Baca juga: Mahasiswa UNESA kembangkan plester hidrogel ekstrak daun sirih hijau

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2021