Logo Header Antaranews Kalteng

BPS sarankan penguatan stok komoditas penyumbang inflasi di Sampit

Minggu, 2 Maret 2025 13:51 WIB
Image Print
Warga antre membeli telur ayam yang dijual murah saat Pasar Murah yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timur di Taman Kota Sampit, Selasa (25/2/2025) lalu. ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menyarankan kepada pemerintah daerah memperkuat pemantauan terhadap pasokan dan stok komoditas-komoditas yang selama ini berkontribusi besar terhadap inflasi di Sampit.

"Dari 2022, 2023 dan 2024, ada beberapa komoditas yang selalu muncul dan menjadi primadona sehingga menyumbang inflasi selama Ramadhan dan Idul Fitri yaitu ayam ras, telur ayam ras, beras dan cabai rawit, serta tarif angkutan udara," kata Kepala BPS Kotawaringin Timur, Eddy Surahman di Sampit, Minggu.

Eddy menyebutkan, pada Januari 2025 lalu Sampit mengalami deflasi 0,74 persen dibanding Desember 2024. Sementara itu inflasi tahun ke tahun (year on year) Januari 2025 terjadi inflasi sebesar 0,18 persen dibanding Januari 2024.

Komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi yaitu tarif listrik sebesar -1,56 persen, bawang merah -0,03 persen, bahan bakar rumah tangga -0,03 persen, tomat -0,03 persen dan ikan selar -0,02 persen.

Sementara itu komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi yaitu daging ayam ras sebesar 0,25 persen, cabai rawit 0,17 persen, ikan gabus 0,04 persen, bensin 0,03 persen dan ayam bakar 0,03 persen.

Menyikapi fenomena inflasi pada Ramadhan dan Idul Fitri, BPS menyarankan perlunya pemantauan terhadap komoditas-komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi. Selanjutnya ini bisa menjadi fokus untuk melakukan penanganan inflasi.

Menurut Eddy, kenaikan harga memang sering terjadi menjelang hari besar keagamaan. Hal itu karena permintaan tinggi dan psikologis masyarakat dalam berbelanja.

Baca juga: 108 pedagang meriahkan Gebyar Ramadhan di Sampit

Untuk itu, perlu dijalankan strategi penanganan inflasi, terutama menjaga ketersediaan stok, keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi pangan. Ini menjadi tugas bersama, khususnya seluruh instansi yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

"Januari lau walaupun terjadi deflasi, tapi daging ayam ras dan cabai rawit tetap muncul sebagai penyumbang terbesar inflasi. Ini juga bisa menjadi gambaran kita nanti dalam melakukan intervensi seperti pasar murah maupun pasar penyeimbang," tambahnya.

BPS menyampaikan beberapa rekomendasi dalam strategi pengendalian inflasi, yakni menjaga ketersediaan stok, keterjangkauan harga, dan kelancaran distribusi pangan.

Selanjutnya, menjaga keseimbangan harga barang dalam rentang harga, agar tidak merugikan masyarakat sebagai konsumen maupun produsen.

Disarankan pula menjalin kerja sama antar daerah dalam hal pemenuhan stok kebutuhan pokok di Kabupaten Kotawaringin Timur. Selain itu, memperkuat hilirisasi dan mengupayakan swasembada pada berbagai komoditas yang potensial di Kabupaten Kotawaringin Timur, misalnya beras, daging ayam ras dan lainnya.

"Komoditas yang memengaruhi hajat hidup orang banyak itu andilnya cukup besar terhadap inflasi dan bobotnya tinggi sekali. Bergerak sedikit, akan membawa pengaruh. Perlu perhatian kita bersama dalam pengendalian inflasi ini," demikian Eddy Surahman.

Baca juga: Pasar Wadai Ramadhan gerakkan ekonomi kerakyatan

Baca juga: Bulog siapkan operasi pasar cegah lonjakan harga beras selama Ramadhan

Baca juga: Anggota DPRD Kotim selesaikan sidang tugas akhir di UMPR



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026