Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah diminta menyikapi secara serius hasil pemeriksaan kesehatan yang menunjukkan tingginya kasus gangguan kesehatan jiwa pada anak usia sekolah di daerah ini, agar ini bisa cepat ditanggulangi.
"Salah satu upaya yang bisa dilakukan di antaranya agar pemerintah daerah bisa lebih memberikan arahan atau pelatihan kepada guru-guru BK (Bimbingan Konseling) agar guru BK bisa lebih care dan menjadi pendamping dan tempat curhat siswa-siswanya," kata Ketua Yayasan Lentera Kartini, Forisni Aprilista di Sampit, Senin.
Belum lama ini Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur beserta jajarannya melaksanakan cek kesehatan gratis (CKG) bagi peserta didik. Hasilnya menunjukkan tingginya kasus gangguan kesehatan jiwa di wilayah setempat khususnya untuk anak usia sekolah.
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan penyakit tidak menular, penyakit menular dan kesehatan jiwa. Jumlah kasus gangguan kesehatan jiwa untuk anak usia sekolah cukup tinggi, yakni 48,27 persen pada tahun ini.
Tim juga mendapati kasus penyakit tidak menular, yakni hipertensi, diabetes dan jantung menjadi yang paling banyak diderita masyarakat Kotawaringin Timur. Sementara itu, penyakit menular ada HIV/AIDS yang trennya juga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menanggapi itu, Forisni menyebut kasus gangguan kesehatan jiwa atau gangguan psikologis pada anak-anak cukup marak. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Kotawaringin Timur, tetapi juga di banyak wilayah di Indonesia.
Baca juga: Wabup ungkap rencana pembangunan Sekolah Unggulan di Kotim
Aktivis perlindungan perempuan dan anak ini menilai, kondisi tersebut terjadi diakibatkan banyak faktor, seperti penggunaan media sosial yang berlebihan, tekanan atau beban pelajaran di sekolah, lingkungan pergaulan yang tidak sehat dan abainya orang tua dalam mengarahkan dan mengisi batin anak.
Kesehatan mental ini menjadi penyakit yang sudah sangat marak di masa sekarang ini. Untuk menanggulanginya, Lentera Kartini mengimbau kepada para orang tua agar bisa menjadi teman curhat terbaik bagi anak.
Orang tua juga diimbau menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak yang ingin menceritakan kegelisahannya. Jauhkan pola asuh otoriter yang bisa menambah tekanan bagi anak.
Sementara itu, para guru diminta benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pendidik, bukan hanya mengajar. Guru bisa menjalin komunikasi yang baik dengan siswanya. Guru bukan orang yang harus ditakuti, tetapi guru yang bisa menjadi panutan.
"Selain itu, biasakan untuk membawa anak kontrol kesehatan psikologis ke psikolog. Jika menemukan anak yang tertutup dan tidak mau curhat ke orangtua karena mencegah lebih baik darinpada mengobati," demikian Forisni Aprilista.
Baca juga: Banjir sudah surut, masyarakat Kotim tetap diimbau waspada
Baca juga: Wabup Kotim ingatkan pentingnya membiasakan disiplin sejak dini
Baca juga: Kotim Juara 1 Bunda PAUD Berprestasi di Kalteng
