
Tim PKM Fisipol UMPR kenalkan konsep ekowisata berkelanjutan

Palangka Raya (ANTARA) - Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (FISIPOL UMPR) melaksanakan kegiatan bertajuk “Pengenalan Konsep Ekowisata Berkelanjutan dan Identifikasi Potensi Wisata Alam di Kawasan Hutan Pantung Kota Palangka Raya" pada 14 November 2025.
"Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat lokal dan mahasiswa mengenai prinsip ekowisata sekaligus memetakan potensi wisata alam yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan di wilayah hutan pantung," kata Ketua tim pengabdian, Mita Sari SSos MAP di Palangka Raya, Rabu.
Dia mengatakan, kegiatan itu berlangsung di kawasan hutan pantung, salah satu zona hutan alami yang memiliki keragaman hayati tinggi dan berkontribusi besar terhadap fungsi ekologis Kota Palangka Raya.
"Sementara para peserta terdiri dari mahasiswa Semester 1, 3, 5, dan 7, Program Studi Administrasi Publik FISIPOL UMPR," katanya.
Mita menjelaskan bahwa pengembangan ekowisata tidak hanya menitikberatkan pada daya tarik wisata, tetapi juga pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan potensi wisata di hutan pantung tetap menjaga kelestarian ekosistem. Edukasi ekowisata sangat penting agar masyarakat dapat mengelola potensi yang ada tanpa merusak habitat dan fungsi hutan," ujarnya.
Baca juga: Dosen FTLM UMPR bantu masyarakat Kalteng eliminasi malaria lewat PKM
Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan materi tentang sejarah pohon pantung, manfaat pohon pantung, potensi ekowisata hutan pantung, prinsip-prinsip dasar ekowisata berkelanjutan, seperti konservasi lingkungan, keterlibatan masyarakat lokal, pengelolaan berbasis edukasi, serta praktik wisata ramah lingkungan.
Selain itu, dilakukan pula kegiatan field survey untuk mengidentifikasi potensi wisata alam, mencakup keanekaragaman flora dan fauna, titik-titik pemandangan menarik, potensi jalur trekking, serta peluang pengembangan wisata edukasi lingkungan.
Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa hutan pantung memiliki potensi kuat untuk dikembangkan menjadi kawasan ekowisata, terutama melalui atraksi wisata pengamatan satwa, edukasi gambut, fotografi alam dan kegiatan petualangan ringan.
Lingkungan hutan yang masih relatif alami menjadi nilai tambah bagi daya tarik kawasan ini. Selain itu juga potensi lain
Menurut Dr Nicodemus R Toun MM, hutan pantung ini dapat dijadikan sebagai laboratorium hidup, yang dapat dijadikan sebagai tempat penelitian dan sarana pendidikan oleh para peneliti, pelajar,Mahasiswa,
Melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan masyarakat sekitar Hutan Pantung dapat berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi,Sosial, Budaya, Lingkungan dari pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Sementara itu, perwakilan Mahasiswa yang hadir, Sania menyampaikan ungkapan terima kasih dan harapannya terhadap keberlanjutan program ini.
“Kegiatan ini membuka wawasan kami," kata Sania.
Dia menjelaskan, di daerahnya di Pedalaman Kapuas, Kegunaan kayu pantung/jelutung di suku dayak ngaju digunakan sebagai bahan alat untuk ritual, telawang, kecapi khas dayak.
"Melalui pendampingan ini, kami jadi lebih mengerti bagaimana Ekowisata berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut," ujarnya.
Baca juga: Dosen FK UMPR raih penghargaan "Best Oral Presentation" di Korea Selatan
Baca juga: Tim Teknik Sipil UMPR borong juara nasional di Balsa Bridge Civil Competition UNISKA
Baca juga: Bahan ajar "Lauk Murik" hadirkan wajah baru pembelajaran IPAS untuk Guru 3T
Pewarta : Rendhik Andika
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
