Logo Header Antaranews Kalteng

Banjir Sumatera dipicu siklon Tropis ekstrem bukan sawit

Selasa, 9 Desember 2025 14:54 WIB
Image Print
Foto udara areal persawahan yang rusak akibat bencana di Lapau Munggu, Kuranji, Padang, Sumatera Barat, Kamis (15/1/2026). Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk pemulihan sawah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat untuk menjaga produksi pangan nasional. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/wsj.

Palang (ANTARA) - Pakar ilmu tanah dari IPB University Dr Basuki Sumawinata menilai, banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan keberadaan kebun kelapa sawit.

"Banjir yang terjadi di Sumatera merupakan dampak dari siklon tropis luar biasa yang membawa hujan ekstrem dalam waktu singkat," kata Basuki melalui rilis diterima di Palangka Raya, kemarin.

Dia menjelaskan, curah hujan (CH) selama kejadian siklon mencapai 400 mm dalam 1–3 hari, jumlah yang jauh melampaui rata-rata bulanan. Di mana curah hujan sebulan biasanya 150–200 mm. Ketika 400 mm turun hanya dalam beberapa hari, tanah tidak mungkin mampu meresapkan air, sehingga terjadi aliran permukaan yang massif.

Ditambah lagi, lanjutnya, menurut hasil pemantauan satelit, awan hujan akibat siklon tersebut memiliki cakupan 200–300 km, meliputi pegunungan, perbukitan, hingga dataran rendah. Dengan begitu, bisa dibayangkan areal yang begitu luas menyangkut gunung dan perbukitan, air permukaannya mengalir dan berkumpul di pelembahan tentu akan menyebabkan aliran yang deras dan menyebabkan banjir dan longsor.

"Banjir menjadi semakin parah ketika mendekati daerah yang relatif datar terutama semakin dekat ke pantai," ujar Basuki.

Menurut dirinya, meskipun infiltrasi hutan lebih baik daripada kebun sawit, tidak ada sistem lahan yang bisa menahan 400 mm hujan per hari. “Pada hutan primer pun akan terjadi run off besar ketika hujan ekstrem turun di lereng yang lebih curam. Bahkan erosi dan longsor lebih mungkin terjadi di hutan alami yang berada di topografi curam,” ujarnya.

Basuki mengungkapkan masyarakat Indonesia belum familier dengan fenomena siklon tropis, karena kejadian serupa jarang terjadi di wilayah Indonesia, terutama di lintang kurang dari 5 derajat. Hal itu terlihat dari Negara seperti Jepang, Taiwan, dan Vietnam Utara sudah terbiasa menghadapi taifun sehingga sistem mitigasinya matang. Untuk Indonesia, ini kejadian luar biasa.

"Jadi untuk menghindari dampak siklon tropis adalah tidak ada lain adalah prediksi, peramalan dan mengungsi," kata dia.

Menanggapi anggapan bahwa sawit menjadi pemicu banjir maupun longsor, Basuki menegaskan bahwa kebun sawit tidak dibangun di lereng curam. Lereng yang digunakan hanya sampai sekitar 15–20%. Di atas itu, sawit memang bisa tumbuh, tetapi tidak ekonomis untuk dikelola.

Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa tidak logis mengaitkan sawit dengan longsor di daerah lereng. Selain itu, praktik budidaya sawit modern banyak dipantau melalui berbagai sistem sertifikasi untuk menjaga kepatuhan terhadap standar lingkungan.

Selain itu, berdasarkan data historis, perkebunan sawit modern umumnya tumbuh di eks kebun karet rakyat, belukar, atau wilayah bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH), bukan dibuka dari hutan primer. Di mana sejumlah stigma yang sering diarahkan kepada sawit umumnya tidak berlandas pada data ilmiah.

"Mulai dari sawit boros air, sawit penyebab banjir, dan lain-lain. Banyak sekali mispersepsi," ucap Basuki.

Dari sisi lingkungan, sawit tetap memiliki fungsi ekologis lebih baik dibanding tanah terbuka atau belukar. Dengan laju fotosintesis tinggi, sawit berpotensi menjadi carbon sink yang efektif.

"Penyerapan karbon kebun sawit jauh lebih tinggi dibanding hutan primer," katanya.

Meski demikian, ia mengakui risiko sawit sebagai monokultur, seperti rendahnya keanekaragaman hayati dan potensi penyakit, tetap perlu dikelola secara baik.

Basuki mengaku sependapat dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa sawit dapat menjadi solusi krisis energi global. Di mana tidak ada tanaman lain yang mampu menghasilkan 3 ton minyak per hektar, bahkan potensi maksimumnya bisa 6–7 ton.

CPO dapat dengan mudah diolah menjadi bahan bakar mesin, menjadikan sawit komoditas energi yang sangat strategis. Agar manfaat ekonomi sawit tetap besar namun ramah lingkungan, pengelolaannya harus dimulai dari penentuan lahan yang tepat—hanya di APL (areal penggunaan lain), bukan di kawasan hutan.

Selain itu diperlukan pemilihan bibit unggul, teknik pemeliharaan yang baik, pengendalian erosi, penggunaan pupuk ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah yang benar.

Untuk itu, dirinya menekankan besarnya peran industri kelapa sawit terhadap ekonomi nasional.

"Berapa juta orang yang hidup dari sawit? Dampaknya sangat besar," demikian Basuki.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026