
Bungai bangkai ditemukan di perkebunan sawit Kotim bukan Titan Arum

Sampit (ANTARA) - Setelah dilakukan observasi lapangan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah memastikan bunga bangkai yang ditemukan di area perkebunan kelapa sawit setempat, bukan jenis Titan Arum.
"Mohon maaf bila dalam penyampaian informasi awal terjadi kesalahan sebelumnya bunga bangkai raksasa ini diduga Amorphophallus Titanum, namun setelah dicari tahu lagi melalui ahli botani Amorphophallus Hewittii," kata Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah di Sampit, Rabu.
Sebelumnya, Minggu (7/12), BKSDA Resort Sampit menerima laporan terkait penemuan empat tumbuhan bungai bangkai yang sempat diduga berjenis Titan Arum atau dengan nama ilmiah Amorphophallus Titanum. Keempat tumbuhan itu ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Mustika Sembuluh 3, yang beroperasi di wilayah Kabupaten Kotim dan Seruyan.
Namun, setelah dilakukan pengecekan langsung ke lokasi dan berkonsultasi dengan Ahli Botani dari Kalimantan Barat Agustiar Randi, dipastikan bahwa bunga bangkai yang ditemukan tersebut bukan Amorphophallus Titanum, melainkan Amorphophallus Hewittii.
"Kekeliruan ini karena keterbatasan kami dan jarang menemukannya di wilayah Kalimantan Tengah, ucap Muriansyah.
Dia menerangkan bahwa Amorphophallus Titanum merupakan tumbuhan endemik Pulau Sumatera, sedangkan Amorphophallus Hewittii merupakan endemik Pulau Kalimantan. Sebab, berdasarkan keterangan dari Ahli Botani, kedua tumbuhan tersebut memang ada kemiripan, terutama bagi orang awam akan sulit untuk membedakannya.
Hal itu terlihat dari bentuk dan ukuran cenderung sama, namun ada perbedaan dari segi warna Amorphophallus Titanum lebih mencolok,seperti ada semburat kemerah-merahan, sedangkan Amorphophallus Hewittii agak kekuningan.
Keberadaan Amorphophallus Hewittii di alam liar sebenarnya tergolong langka, namun berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2022 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, statusnya tidak lagi dilindungi.
"Bentuknya yang terbilang unik membuat Amorphophallus Hewittii kerap menjadi incaran kolektor," imbuhnya.
Baca juga: Bunga langka 'Titan Arum' ditemukan di perkebunan sawit di Kotim
Ia menambahkan, berdasarkan hasil observasi didapati dua dari empat Amorphophallus Hewittii yang ditemukan di area perkebunan sawit tersebut tengah berbunga dan satu lainnya sudah mulai layu.
"Yang satu sudah mulai layu, perkiraan kami, yang tersisa itu paling lama satu minggu lagi sebelum habis fase mekarnya," ujar Muriansyah.
Di sekitar lokasi juga ditemukan sekitar enam batang anakan yang diduga kuat anakan dari Amorphophallus Hewittii. Keterangan dari pihak perusahaan yang mendampingi observasi itu, bahwa tumbuhan tersebut tidak ditanam alias tumbuh secara alami di area perkebunan.
Hal ini mendukung pernyataan pihak perusahaan dan warga sekitar sebelumnya, bahwa penemuan bunga ini bukan pertama kalinya. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tercatat sudah lima kali bunga tersebut muncul dengan siklus sekitar dua tahun sekali.
Pihak perusahaan melalui bidang konservasi ( HCV) telah memberikan sosialisasi kepada karyawan tentang bunga bangkai tersebut dan melakukan pemantauan kondisi setiap hari.
Selain diberi tiang pembatas, direncanakan pihak perusahaan bidang konservasi akan membuat spanduk yg berisi terkait jenis bunga bangkai tersebut dan himbauan atau larangan untuk merusak ataupun mengambilnya," demikian Muriansyah.
Baca juga: Tiga pelajar Kotim borong juara tenis meja Kalteng
Baca juga: Banjir rob turut rendam ruas jalan Sampit-Kuala Pembuang
Baca juga: Bupati Kotim sebut DPPI ujung tombak pembinaan ideologi Pancasila
Pewarta : Devita Maulina
Editor:
Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
