
Psikolog: Tekanan hidup berkepanjangan jadi pemicu aksi gantung diri

Palangka Raya (ANTARA) - Psikolog di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rensi mengatakan, tekanan hidup yang berkepanjangan dapat menjadi pemicu seseorang untuk melakukan aksi bunuh diri, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Kota Cantik.
"Secara psikologis, peristiwa gantung diri biasanya tidak terjadi secara mendadak. Umumnya merupakan hasil dari tekanan hidup berkepanjangan, seperti masalah ekonomi, pekerjaan, hubungan sosial, maupun rasa kesepian yang tidak tersalurkan,” katanya di Palangka Raya, Rabu.
Dia mengungkapkan, dalam kondisi tertentu seseorang bisa merasa sangat tertekan, tidak berdaya, serta kehilangan harapan, seolah-olah tidak ada lagi jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ketika kondisi tersebut berlangsung lama dan tidak mendapat dukungan, pola pikir seseorang menjadi semakin sempit dan sulit melihat alternatif solusi.
“Banyak dari mereka sebenarnya bukan ingin mengakhiri hidup, tetapi ingin mengakhiri rasa sakit dan beban psikologis yang dirasa sudah terlalu berat. Namun karena tidak mampu mengungkapkan perasaan atau meminta pertolongan, akhirnya memilih cara yang salah,” ucapnya.
Baca juga: DPRD Kalteng minta masyarakat bijak pahami KUHP baru
Rensi menilai, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya peran lingkungan sekitar dalam pencegahan. Tanda-tanda awal seperti menarik diri dari pergaulan, jarang berinteraksi, perubahan emosi drastis, atau terlihat sangat tertekan tidak boleh diabaikan.
“Dukungan keluarga, tetangga, dan masyarakat sangat berperan. Kepedulian sederhana seperti mendengarkan, mengajak berbicara, atau mengarahkan ke bantuan profesional bisa mencegah terjadinya peristiwa serupa,” ujarnya.
Rensi juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan psikologis ketika merasa kewalahan menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan membutuhkan perhatian bersama.
"Jangan takut untuk datang ke psikolog. Karena orang yang datang itu bukan berarti mereka sakit jiwa. Bisa saja hanya memerlukan tempat untuk meluapkan cerita atau keluh kesah yang selama ini terpendam," demikian Rensi.
Baca juga: Dishub Kalteng simulasikan pengaturan parkir basement RTH Bundaran Besar
Baca juga: Saling bela anak, dua orang tua nyaris adu jotos di Palangka Raya
Baca juga: Saling bela anak, dua orang tua nyaris adu jotos di Palangka Raya
Pewarta : Rajib Rizali
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
