Logo Header Antaranews Kalteng

SPUN kembangkan infrastruktur visa AI Asia Tenggara

Senin, 19 Januari 2026 16:15 WIB
Image Print
Christa Sabathaly Co-founder dan CEO SPUN (kiri) dan Dilla Anindita Purnawan Co-founder dan CPO SPUN (kanan) (ANTARA/HO-Antler)

Jakarta (ANTARA) - Startup layanan perjalanan berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI), SPUN, menuntaskan pendanaan tahap awal (seed funding) senilai 1,8 juta dolar AS atau sekitar Rp30,4 miliar untuk memperluas infrastruktur pengurusan visa berbasis AI di kawasan Asia Tenggara.

"Visa sering dianggap sekadar urusan administratif, padahal justru menjadi sumber kecemasan terbesar dalam perjalanan internasional,” ujar CEO dan Co-Founder SPUN, Christa Sabathaly, dalam keterangan tertulis pada Senin.

Christa menjelaskan bahwa SPUN memulai layanannya dari pengurusan visa masuk (inbound) dan visa keluar (outbound) sebagai fondasi layanan mobilitas lintas negara.

Berbeda dari agen visa konvensional yang masih mengandalkan proses manual, SPUN membangun teknologi AI khusus untuk membantu pemohon individu maupun mitra usaha menghadapi persyaratan visa yang kerap berubah dan berbeda di tiap negara.

Melalui otomasi dan standardisasi proses, sistem SPUN dirancang agar lebih rapi, konsisten, dan dapat diandalkan.

"Baik pemohon individu maupun perusahaan yang mengurus visa dalam jumlah besar menghadapi masalah yang sama. Dengan satu sistem yang bisa digunakan oleh keduanya, kami ingin membuat proses pengurusan visa lebih pasti dan mudah dikembangkan ke berbagai negara," kata Christa.

Ia menambahkan, dalam waktu kurang dari satu tahun, SPUN telah membantu lebih dari 200 perusahaan serta ribuan pemohon individu memproses visa secara lebih mudah dan andal.

Pertumbuhan layanan

Dalam 12 bulan pertama beroperasi, SPUN telah menangani ribuan pengajuan visa inbound dan outbound dengan tingkat persetujuan mencapai 99 persen. Seluruh layanan digunakan oleh pelanggan berbayar dengan harga pasar, baik dari segmen individu maupun B2B.

Fokus pada visa sebagai layanan inti memungkinkan SPUN memperluas jangkauan ke berbagai negara tanpa harus membangun proses dari awal di setiap pasar.

Pendekatan ini menciptakan alur pengurusan visa yang lebih konsisten dan mudah diprediksi, sejalan dengan meningkatnya mobilitas perjalanan dan aktivitas kerja lintas negara.

Saat ini, platform SPUN mendukung lebih dari 300 jenis visa di 90+ negara, melayani pemohon individu serta pelanggan B2B, termasuk 200+ agen perjalanan dan reseller.

Layanan mereka juga telah terintegrasi dengan berbagai platform perjalanan utama di Asia Tenggara seperti Klook, Traveloka, Tiket.com, dan Nusatrip.

Ekspansi regional

Pendanaan tahap awal yang dipimpin Genesia Ventures, dengan partisipasi Antler, Spiral Ventures, Iterative, Kopital Ventures, serta angel investor Kum Hong Siew, difokuskan untuk memperluas kehadiran SPUN di pasar-pasar utama Asia Tenggara serta memperkuat sistem otomasi berbasis AI, serta meningkatkan kolaborasi dengan platform perjalanan dan mitra B2B.

Para investor menilai SPUN menjawab persoalan mendasar di banyak negara Asia Tenggara, di mana proses pengurusan visa masih belum optimal, sementara kebutuhan perjalanan dan kerja lintas negara terus meningkat.

"Kebanyakan orang masih memandang visa sebagai bisnis layanan manual. Kami melihatnya sebagai masalah infrastruktur,” ujar General Partner di Genesia Ventures Takahiro Suzuki.

"Digitalisasi proses visa sudah dimulai, namun belum sepenuhnya mempermudah pengguna. SPUN membangun sistem dan alur kerja yang menstandarkan proses visa di Asia Tenggara. Kombinasi visi jangka panjang dan traksi awal inilah yang membuat kami yakin memimpin putaran ini," katanya.

Sementara itu, Agung Hadinegoro, Partner di Antler Indonesia, menyoroti ambisi global SPUN sejak awal berdiri.

"Tim menunjukkan visi global dengan pendekatan eksekusi yang sangat praktis. Mereka membuktikan bahwa hambatan visa bukan hanya persoalan Indonesia, terlihat dari tingginya permintaan dan retensi pengguna di berbagai pasar,” ujarnya.

Setiap tahun, lebih dari 20 juta penumpang melalui sekitar 100.000 penerbangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai destinasi global. Berdasarkan data Henley Passport Index, pemegang paspor Indonesia masih memerlukan visa untuk 106 dari 195 negara.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026