Logo Header Antaranews Kalteng

Disdik Palangka Raya--Densus 88 perkuat pencegahan paham IRET di lingkungan SMP

Rabu, 21 Januari 2026 17:53 WIB
Image Print
Perwakilan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri, Iptu Ganjar Satriyono selaku Katim Unit Idensos Pencegahan memberikan pengarahan untuk memperperkuat pencegahan paham IRET di lingkungan SMP di Pqlqngka Raya, Rabu (21/1/2026). ANTARA/HO-Disdik Kota Palangka Raya.

Palangka Raya (ANTARA) - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya bersinergi dengan Satgaswil Kalimantan Tengah Densus 88 Antiteror (AT) Polri memberikan sosialisasi kepada 54 kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri dan swasta se-Kota Palangka Raya terkait strategi pencegahan paham IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme), kekerasan, serta perilaku sadistis.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya Jayani di Palangka Raya, Rabu, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Unit Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri atas kolaborasi yang terjalin dalam upaya penguatan peran sekolah sebagai benteng moral dan kebangsaan yang dikemas dalam agenda Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah SMP Negeri dan Swasta se-Kota Palangka Raya yang digelar di SMP Negeri 9 Palangka Raya.

“Melalui kegiatan ini, kami mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan hingga peserta didik untuk berperan aktif menjaga lingkungan sekolah agar terhindar dari paham IRET, kekerasan, dan perilaku sadistis, sehingga tercipta sekolah yang aman, damai, dan penuh kasih,” kata Jayani.

Sementara itu, perwakilan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri, Iptu Ganjar Satriyono selaku Katim Unit Idensos Pencegahan, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini memfokuskan upaya pada pencegahan dan deteksi dini penyebaran paham radikalisme, kekerasan, dan sadistis yang menyasar generasi muda, khususnya melalui media sosial dan gim daring.

Baca juga: Dosen PAI UMPR gelar Pengabdian Masyarakat Internasional di Thailand

“Game online kerap dimanfaatkan sebagai media untuk mempengaruhi anak-anak dengan konten yang tidak layak dikonsumsi, seperti radikalisme, kekerasan atau sadistis, bahkan penyimpangan seksual,” ujarnya.

Ia mencontohkan kasus yang terjadi pada 7 November 2025 di SMA Negeri 72 Jakarta, di mana seorang siswa melakukan aksi peledakan bom rakitan. Hasil investigasi Densus 88 AT Polri mengungkap bahwa pelaku tergabung dalam komunitas media sosial global yang mengagungkan kekerasan, yakni grup WhatsApp True Crime Community (TTC), bersama puluhan anak lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

Ganjar menegaskan bahwa pencegahan penyebaran paham radikalisme, kekerasan, dan sadistis bukan hanya menjadi tugas Polri, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, khususnya lingkungan pendidikan.

Melalui kegiatan ini, ia berharap para kepala sekolah dan guru dapat merumuskan langkah-langkah pengawasan penggunaan media sosial di kalangan pelajar, sekaligus menjadi detektor dini terhadap perubahan perilaku siswa, pola pergaulan, serta potensi perundungan (bullying).

“Anak-anak bukan sasaran ideologi. Mereka adalah harapan dan masa depan bangsa. Karena itu, lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan damai harus kita jaga bersama,” demikian Ganjar.

Baca juga: UMPR jajaki kerja sama internasional dengan Universiti Teknologi MARA Malaysia

Baca juga: Anyaman Purun Palangka Raya tembus pasar Australia, Denmark, Spanyol hingga Hongkong

Baca juga: BMKG ingatkan warga pesisir selatan Kalteng waspadai gelombang tinggi



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026