
Festival Mangaruhi jadi media kampanye perikanan ramah lingkungan

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Halikinnor mendukung konsistensi Festival Mangaruhi yang digelar Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah karena menjadi pelestarian tradisi masyarakat Dayak, sekaligus menjadi media kampanye cara menangkap ikan dengan ramah lingkungan.
"Aslinya kan di sungai, tapi tidak apa-apa ini digelar di kolam. Ini menjadi contoh kearifan lokal kita masyarakat Dayak dalam menangkap ikan secara ramah lingkungan karena hanya menggunakan tangan kosong," kata Halikinnor di Sampit, Kamis.
Halikinnor mengucapkan terima kasih atas pelaksanaan lomba mangaruhi yang diinisiasi oleh Dinas Perikanan. Selain bagian rangkaian kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur, kegiatan ini juga membawa banyak dampak positif.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong royong, serta mampu menjaga kelestarian budaya lokal yang sudah ada sejak dulu di masyarakat Kotawaringin Timur dalam melakukan eksploitasi terhadap sumberdaya perairan.
"Kegiatan ini memberikan pelajaran kepada kita semua tentang cara bersahabat dengan alam, cara menjaga kebersamaan antar sesama, dan cara menjaga kelestarian alam agar tetap lestari berkelanjutan," ujar Halikinnor.
Baca juga: DPRD sambut baik kembalinya Lion Air di Bandara Haji Asan Sampit
Kepala Dinas Perikanan Kotawaringin Timur, Ahmad Sarwo Oboi mengatakan, Festival Mangaruhi adalah wujud nyata pelestarian budaya lokal sekaligus ajang silaturahmi dengan unsur Forkopimda serta seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah.
"Ini bukan sekadar tradisi, tetapi simbol persatuan, gotong royong, dan semangat menjaga kearifan lokal. Melalui festival ini, kita ingin menegaskan bahwa pembangunan Kotawaringin Timur tidak hanya berorientasi pada fisik dan ekonomi, tetapi juga pada budaya, identitas, dan jati diri daerah," demikian Sarwo Oboi.
Sementara itu, Festival Mangaruhi berlangsung seru dalam suasana keakraban. Puluhan pegawai perwakilan organisasi perangkat daerah terjun ke kolam berlomba menangkap ikan lele dengan tangan kosong.
Menangkap ikan di kolam tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi, lele termasuk ikan yang gesit, licin dan sulit ditangkap. Pemenang lomba ini adalah peserta yang menangkap ikan paling banyak dalam waktu 10 menit.
Baca juga: DPRD Kotim dorong penyelesaian kisruh perkara pupuk bersubsidi di Lampuyang
Baca juga: DPRD Kotim minta pemkab terus perjuangkan nasib SDM pemerintahan
Baca juga: Diskan Kotim bentuk BLUD untuk kemandirian sektor perikanan
Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
