Logo Header Antaranews Kalteng

PJB perlu ditangani sejak dini demi mencegah risiko komplikasi kelainan paru-paru

Kamis, 12 Februari 2026 16:28 WIB
Image Print
Foto ilustrasi (ANTARA/HO-AmnajKhetsamtip dari iStockphoto)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dr. Oktavia Lilyasari Sp.JP(K) FIHA mengatakan penyakit jantung bawaan (PJB) harus segera ditangani sedari dini agar tidak ada kebocoran cairan yang menyebabkan kelainan paru.

“Sehingga tadinya yang harusnya penyakit jantung bawaan tidak biru, karena tekanan parunya tinggi, jantung kanan jadi tinggi tekanan aliran darah yang tadinya dari kiri ke kanan, pindah dari kanan ke kiri, jadi dia biru. Itu yang namanya Eisenmenger,” kata dokter yang disapa Vivi ini dalam acara diskusi kesehatan memeringati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan di Jakarta, Kamis.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrk dan Penyakit Jantung Bawaan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini menjelaskan ada waktu emas atau golden period pada PJB yang tidak biru (asioanotik) atau biru (sianotik) terutama pada pasien ASD atau kelainan pada sekat serambi kanan dan kiri dan PDA yaitu kelainan jantung karena sambungan lubang ke paru-paru bocor.

Baca juga: Usia kehamilan 18-22 minggu waktu ideal untuk deteksi PJB pada janin

Jika dibiarkan tidak ditindaklanjuti, akan ada peningkatan aliran darah ke paru-paru yang merusak pembuluh darah dan jaringan paru itu sendiri. Darah yang bocor juga miskin oksigen beredar ke seluruh tubuh, yang ditandai dengan kulit membiru (sianosis), kelelahan, dan sesak napas.

Vivi menjelaskan pada kasus tersebut, sifatnya permanen dan dokter tidak bisa melakukan tindakan medis lainnya baik pembedahan maupun non bedah.

Ia mengatakan tidak ada batas waktu sampai kapan darah akan membocori paru-paru karena dalam beberapa kasus bisa ditemui setelah pasien dewasa, namun tidak menutup kemungkinan pada anak usia 3 atau 4 tahun sudah terjadi pulmonary vascular disease atau kelainan paru.

“Sehingga akhirnya kita memutuskan untuk tidak bisa dilakukan reparasi lagi. Tidak bisa diapa-apain lagi. Jadi kita akan edukasi ke orang tua, bahwa kita tidak bisa melakukan tindakan reparasi. Baik secara bedah atau non-bedah. Dan kemudian kita hanya bisa menjaga kualitas hidupnya,” katanya.Vivi mengatakan seseorang dengan kelainan paru karena kebocoran cairan dari jantung hanya bisa dipantau untuk menjaga kualitas hidupnya dengan minum obat secara ruitn seumur hidup agar progesifitas dari penyakitnya tidak terlalu cepat, dan orang tersebut bisa melakukan aktivitasnya sedikit lebih baik namun tidak bisa normal seperti orang lain.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026