Logo Header Antaranews Kalteng

BMKG Kotim imbau masyarakat waspada bencana hidrometeorologi

Jumat, 10 April 2026 17:37 WIB
Image Print
Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo. ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seiring memasuki fase transisi cuaca atau pancaroba pada April hingga Mei 2026.

"Kemungkinan besar kita saat ini sudah memasuki fase pancaroba, mulai April ini sampai Mei. Oleh karena itu, kita perlu waspada terjadi fenomena bencana hidrometeorologi," kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Jumat.

Mulyono menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim ekstrem, seperti curah hujan tinggi atau angin kencang. Jenis bencana ini meliputi banjir, tanah longsor, puting beliung dan kekeringan.

Bencana hidrometeorologi tersebut merupakan dampak dari fase perubahan musim. Pada masa transisi ini, kondisi atmosfer cenderung menjadi tidak stabil sehingga memicu berbagai efek cuaca yang bisa merugikan masyarakat.

"Bencana ini biasanya terjadi pada perubahan musim itu. Jadi ada beberapa fasenya yang bisa menyebabkan beberapa efek berupa bencana hidrometeorologi, karena potensi kejadian ekstrem itu lebih sering terjadi," ujarnya.

Selain potensi bencana hidrometeorologi selama pancaroba, BMKG Kotim juga merilis prakiraan awal musim kemarau 2026. Untuk wilayah Kotim bagian utara, awal kemarau diprediksi mulai pada 1 Juni, kecuali untuk Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut.

Adapun dua kecamatan yang berada di wilayah pesisir tersebut, awal musim kemarau diprediksi baru akan terjadi pada 21 Juni atau dasarian ketiga dengan akhir musim yang tetap sama yakni pada 30 September.

"Rata-rata untuk Kotim bagian awal musim kemaraunya di Juni dasarian 1 dengan durasi kemarau sekitar 120 hari atau sampai akhir September. Sedangkan, untuk Kecamatan Teluk Sampit awal musim kemaraunya agak lambat tapi ujungnya sama di akhir September," terangnya.

Baca juga: Satgas Pangan Kotim sidak pasar untuk jaga stabilitas harga

Mulyono menambahkan, bahwa fenomena iklim tahun ini menunjukkan karakteristik yang berbeda dari biasanya. Ia menyebutkan bahwa terdapat indikasi hadirnya fenomena El Nino yang akan mempengaruhi kondisi cuaca di daerah tersebut.

"Prediksi kami kemarau tahun ini datang lebih awal, durasi lebih panjang, dan kemungkinan besar potensi El Nino lemah dan moderat akan terjadi di tahun ini," ungkapnya.

Menanggapi kemungkinan adanya El Nino kuat, ia mengonfirmasi bahwa sejauh ini prediksinya hanya sampai level menengah. Pihaknya terus memantau pergerakan data nilai El Nino yang sempat berada di level moderat namun kini cenderung melemah.

"Untuk potensinya sepertinya belum sampai kuat, karena dari prediksi BMKG itu El Nino moderat, tapi kemudian turun kembali jadi lemah. Tapi, kami tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama musim kemarau, khususnya dengan tidak melakukan maupun mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan," demikian Mulyono.

Baca juga: DPRD Kalteng sebut blank spot di Kotim kini hampir hilang

Baca juga: Kemenhaj Kotim matangkan persiapan keberangkatan JCH 2026

Baca juga: Kotim tanam padi serentak 284 hektare di lahan Cetak Sawah Rakyat



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026