
Universitas Sahid Jakarta bedah perkembangan geopolitik, hadirkan ruang dialog ilmiah responsif

Tiga akademisi doktor komunikasi kupas akar geopolitik, endgame Iran dan siapa yang sesungguhnya mengendalikan kebenaran di era AI.
Palangka Raya (ANTARA) - Universitas Sahid (Usahid) Jakarta melalui Sekolah Pascasarjana menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan pemikiran kritis di bidang komunikasi global di Indonesia.
Salah satunya dengan menyelenggarakan diskusi intelektual bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” pada Jumat (10/4).
Forum ini menghadirkan tiga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi yang mengulas konflik AS–Israel dengan Iran dari perspektif geopolitik, strategi militer serta komunikasi global berbasis teknologi.
“Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global," kata Kaprodi Doktoral Ilmu Komunikasi Usahid Jakarta Dr. Prasetya Yoga Santoso dalam keterangan pers yang diterima di Palangka Raya, Sabtu.
Program Doktor Ilmu Komunikasi Usahid berperan dalam membentuk akademisi yang memahami komunikasi sebagai arena produksi makna dan kekuasaan.
Perang modern adalah konstruksi realitas berbasis teknologi, media, dan algoritma. Literasi media dan kecerdasan komunikasi strategis menjadi kunci dalam menghadapi era ini.
Baca juga: Trump ultimatum Iran, ancam kehancuran jika eskalasi berlanjut
Di era ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh algoritma, siapa yang sesungguhnya mengendalikan realitas? Dalam konteks ini, Universitas Sahid Jakarta memposisikan diri sebagai ruang produksi pengetahuan strategis melalui Program Doktor Ilmu Komunikasi yang membentuk akademisi kritis untuk memahami komunikasi sebagai arena kontestasi makna dan kekuasaan.
Perang modern tidak lagi sekadar fisik, melainkan konstruksi realitas berbasis media, teknologi, dan algoritma, sehingga peran akademisi menjadi krusial dalam mengungkap relasi kuasa, membangun literasi media, serta mengembangkan kecerdasan komunikasi strategis sebagai fondasi menghadapi era perang multi-dimensi berbasis AI.
Sementara itu, diskusi ini menjadi bagian dari komitmen akademik Usahid dalam menghadirkan ruang dialog ilmiah responsif terhadap dinamika global, sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis strategis lintas disiplin di era disrupsi teknologi dan informasi.
Bukan Perang Sporadis—Ini Skenario Lama
Analis Timur Tengah, DIK 29 Fathurrahman Yahya menegaskan konflik ini merupakan bagian dari konstruksi geopolitik jangka panjang pasca-Perang Dingin 1991. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perebutan energi global.
"Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan: energi, keamanan, dan geopolitik," kata Fathurrahman Yahya.
Endgame Iran: Lemah, Tapi Tak Hancur
Konsultan Komunikasi Global & Pengamat Politik AS, DIK 35 Didin Nasirudin memproyeksikan Iran tidak akan runtuh meskipun menghadapi tekanan militer besar, dengan strategi perang asimetris berbasis drone dan jaringan proxy.
"Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur. Selat Hormuz dibuka kembali dengan aturan main baru," ungkap Didin Nasirudin.
Siapa Kuasai Algoritma, Dia Kuasai Kebenaran
Eksekutif Produser Liputan 6 SCTV, DIK 33 Henry Sianipar menjelaskan perang modern berlangsung pada level fisik, kognitif dan epistemologis, di mana algoritma dan AI menjadi penentu persepsi publik global.
“Kita sudah berada di era Perang Permanen Multi-Dimensi. AI adalah pembentuk realitas," jelas Henry Sianipar.
Baca juga: Dampak serangan di PLTN Bushehr akan hancurkan Arab
Baca juga: Rusia kecam serangan terhadap PLTN Bushehr Iran
Baca juga: 220 kapal lintasi Selat Hormuz pada Maret
Pewarta : -
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
