
Drainase tersumbat sebabkan Pasar Parenggean terendam

Sampit (ANTARA) - Banjir sempat merendam kawasan pasar di Kelurahan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada Minggu (19/4), diduga terjadi akibat drainase yang tidak berfungsi optimal, ditambah kondisi wilayah yang berada di dataran lebih rendah.
“Kecamatan Parenggean itu kan daerah perbukitan, sedangkan pasar berada di bawah, sehingga ketika hujan, air mengalir ke daerah yang lebih rendah dan drainase yang tidak lancar, sehingga air mudah tergenang,” kata Camat Parenggean Muhammad Jais di Sampit, Senin.
Ia menjelaskan mengenai banjir yang terjadi sehari sebelumnya, bahwa hujan dengan intensitas cukup tinggi selama tiga hingga empat jam pada malam hari menjadi pemicu utama.
Air dari kawasan perbukitan mengalir ke bawah dan tertahan akibat drainase yang tersumbat. Genangan air terparah memang terjadi di sekitar kawasan pasar dengan ketinggian mencapai sekitar 20 sentimeter dari permukaan tanah.
“Tapi banjirnya tidak lama, sekarang sudah surut. Paling hanya 3 sampai 4 jam saja tergenangnya dan di daerah itu memang sering seperti itu,” ujarnya.
Jais mengungkapkan, sebenarnya selama ini pihak kecamatan bersama lurah serta masyarakat telah rutin melakukan gotong royong untuk membersihkan saluran air.
Namun, upaya tersebut kerap terkendala oleh kurangnya kesadaran sebagian warga, terutama para pedagang di kawasan pasar. Masih ditemukan kios-kios yang menutup saluran drainase menggunakan papan atau material lainnya, sehingga menghambat ketika dilakukan pembersihan.
Selain sampah, material laterit dari jalan yang terbawa air juga menjadi faktor penyumbatan drainase yang menyebabkan terjadinya genangan saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Kadang-kadang masyarakat di pasar kurang tertib, padahal kita sudah lakukan gotong royong rutin setiap Jumat dan lainnya.Padahal ini tanggung jawab bersama. Tapi kami selaku camat bersama lurah, RT dan RW tetap berupaya memaksimalkan itu,” tuturnya.
Baca juga: 7.775 Pelajar SD di Kotim ikuti tes kemampuan akademik
Jais menyebut, dikarenakan masalah seperti ini terus berulang maka pemerintah kecamatan bersama lurah dan damang setempat mengkaji penerapan aturan berbasis hukum adat guna meningkatkan kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Saat ini, sosialisasi mengenai aturan itu telah dilakukan, tinggal penyusunan draf regulasi yang nantinya akan diberlakukan bagi seluruh masyarakat. Harapannya, aturan tersebut mampu menekan perilaku membuang sampah sembarangan dan menutup saluran air.
“Jadi, mungkin nanti akan kami buat nota kesepakatan antara lurah dan damang dengan diketahui oleh camat, sehingga nantinya aturan tersebut bisa diberlakukan bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Kecamatan Parenggean juga mulai melakukan penataan ulang guna meminimalisir kejadian serupa. Ia menginstruksikan lurah untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap saluran drainase yang tersumbat agar segera ditangani.
Meskipun, ia mengakui, karena keterbatasan anggaran dan belum adanya alokasi khusus dari pemerintah kabupaten sehingga perbaikan drainase di wilayah setempat selama ini belum bisa dilakukan.
“Selama ini memang belum ada perbaikan drainase dari pemerintah karena keterbatasan anggaran, sehingga kami lakukan secara swadaya bersama masyarakat sesuai kemampuan kami,” ungkapnya.
Jais menambahkan, berkaitan dengan masalah kebersihan ini Pemerintah Kecamatan telah menyiapkan lahan seluas sekitar 4 hektare sebagai lokasi pembuangan sampah, lengkap dengan akses jalan sepanjang 1,3 kilometer.
Namun, ia mengakui pemanfaatannya belum maksimal akibat keterbatasan anggaran. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya menggandeng perusahaan di sekitar melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna mendukung pengelolaan sampah dan infrastruktur pendukung lainnya.
Ia menyakini, jika saluran air dapat berfungsi dengan baik, genangan kemungkinan besar tidak akan terjadi meski hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Kalau drainase lancar, hujan seperti kemarin tidak akan menyebabkan banjir. Tapi karena ada sampah dan material yang masuk ke parit, akhirnya terjadi genangan,” demikian Jais.
Baca juga: Pemkab Kotim matangkan skema pemberangkatan JCH ke embarkasi Banjarmasin
Baca juga: Jadikan halal bihalal Korpri perkuat solidaritas dan profesionalitas ASN di Kotim
Baca juga: Pemkab Kotim semakin perketat perjalanan dinas imbas kenaikan BBM
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
