
Tiga alasan overthinking makin parah saat sendirian

Jakarta (ANTARA) - Psikolog Jeffrey Bernstein Ph.D. mengungkap tiga alasan mengapa kecenderungan overthinking memburuk saat seseorang sendirian. Dalam laporannya di laman Psychology Today pada hari Selasa,
ia menyoroti peran koneksi sosial dalam menenangkan pikiran cemas yang berulang.
Bernstein menjelaskan, overthinking terjadi saat seseorang terus memutar pikiran ketika sendirian dan tidak memiliki referensi eksternal untuk menguji kenyataan.
Saat sendirian, otak tidak mendapat pemeriksaan realitas, tidak ada kalibrasi emosional, dan tidak ada gangguan terhadap pikiran yang berputar.
Pikiran tersebut sering muncul dalam bentuk skenario negatif seperti ketakutan akan kegagalan atau kehilangan rasa hormat dari orang lain. Tanpa interupsi, pikiran ini menjadi semakin intens.
Ia menegaskan, overthinking merupakan persoalan serius yang memiliki dasar dalam ilmu saraf.
Bernstein menggunakan istilah “social buffering” dalam psikologi sosial untuk menjelaskan bagaimana kehadiran orang lain membantu menghentikan siklus tersebut.
Pertama, melihat orang lain dapat memutus lingkaran pikiran. Ketika seseorang terjebak dalam pikiran berulang-ulang,
upaya untuk berbohong lebih jauh justru memperparah keadaan karena otak berada dalam kondisi sensitif terhadap ancaman. Berada di sekitar orang yang relatif tenang dapat mengalihkan perhatian dan membantu sistem saraf lebih teratur.
Bernstein mengaku sering berjalan di pusat keramaian yang ramai untuk membantu menenangkan perenungannya.
Kedua, kesendirian membuat masalah terasa lebih besar. Overthinking cenderung membesar-besarkan persoalan kecil menjadi skenario bencana. Namun, kehadiran orang lain memperluas perspektif.
Seseorang menyadari bahwa masalah yang dihadapi hanyalah satu bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan dari dirinya. Kehadiran sosial mengingatkan bahwa setiap orang menghadapi pergulatan sebagai manusia.
Ketiga, overthinking tumbuh dalam ketidakaktifan. Keraguan dan stagnasi mental memperkuat siklus pikiran berulang.
Bernstein dalam bukunya “Freeing Your Child From Overthinking” mendorong keterlibatan dengan dunia luar untuk memutus siklus tersebut.
Ia memperkenalkan model PACE, yaitu jeda atau berhenti sejenak dengan napas tenang, mengakui atau mengakui sedang overthinking, mengandung atau menahan diri agar tidak menyelesaikan semuanya sekaligus,
serta keterlibatan atau kembali terlibat dalam aktivitas meski terasa tidak nyaman
Menurut Bernstein, keterlibatan sosial membantu seseorang keluar dari aliran pikiran dan kembali pada tindakan nyata.
Pewarta : -
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
