Logo Header Antaranews Kalteng

Bupati Kotim resmikan 22 fasilitas kesehatan

Kamis, 23 April 2026 17:40 WIB
Image Print
Bupati Kotim Halikinnor didampingi Kepala Dinas Kesehatan melihat gambaran sejumlah faskes yang selesai dikerjakan pada TA 2025 di Sampit, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor meresmikan 22 fasilitas kesehatan hasil pengerjaan Tahun Anggaran 2025, sebagai upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

"Peresmian puskesmas ini bukan sekadar menambah gedung baru, tetapi komitmen pemerintah menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas, merata, dan berkeadilan hingga ke tingkat desa dan kelurahan," kata Halikinnor di Kelurahan Mentaya Seberang, Kamis.

Hal ini ia sampaikan pada acara peresmian faskes yang dipusatkan di Puskesmas Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, yang digelar oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim serta jajaran.

Halikinnor menjelaskan, pembangunan fasilitas kesehatan tersebut sejalan dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kotim 2026, yang menempatkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama pembangunan daerah.

Ia menyebut, pembangunan fasilitas kesehatan merupakan bagian dari program berkelanjutan yang dirancang setiap tahun sesuai kebutuhan masyarakat.

"Dengan puskesmas yang representatif dan sesuai standar Kementerian Kesehatan, kami berharap pelayanan semakin meningkat dan kondisi kesehatan masyarakat menjadi lebih baik," jelasnya.

Pemerintah daerah terus mengupayakan pembangunan dan peningkatan fasilitas kesehatan baik melalui APBD maupun usulan ke pemerintah provinsi hingga Kementerian Kesehatan, termasuk rehabilitasi fasilitas lama dan pengadaan alat kesehatan.

Disamping fasilitas, pihaknya juga terus meningkatkan layanan kesehatan sesuai dengan arahan Kementerian Kesehatan, yakni berkaitan dengan integrasi layanan primer (ILP).

Dalam ILP seluruh layanan mulai dari promotif, preventif, deteksi dini hingga pengobatan dan pemantauan kesehatan dilakukan secara terpadu dalam satu siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil atau kandungan, bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia.

"Semua kelompok sasaran mulai dari ibu hamil, balita, usia sekolah, usia produktif hingga lansia harus terdata, terpantau dan terlayani dengan baik agar standar pelayanan minimal (SPM) benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.

Ia menyebutkan, layanan kesehatan yang optimal mencakup pemeriksaan ibu hamil minimal enam kali, imunisasi lengkap bagi balita, pemantauan rutin penderita hipertensi dan diabetes, hingga pendampingan bagi orang dengan gangguan jiwa serta akses skrining penyakit secara gratis.

Selain itu, pemerintah daerah juga mencanangkan program cek kesehatan gratis (CKG) bagi masyarakat yang dapat dimanfaatkan di seluruh puskesmas, mencakup pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kesehatan ibu dan anak, penyakit menular seperti TBC, hingga kesehatan mental.

Dalam hal ini, ia meminta Dinkes Kotim bersama puskesmas aktif melakukan jemput bola hingga ke tingkat desa, RT dan RW untuk memastikan layanan kesehatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Halikinnor juga mengajak seluruh perangkat daerah, camat, lurah dan kepala desa untuk menjadikan puskesmas sebagai pusat gerakan kesehatan di wilayah masing-masing dengan melibatkan PKK, kader posyandu, dan organisasi masyarakat.

"Data sasaran harus akurat by name by address, sehingga tidak ada masyarakat yang terlewatkan. Kesehatan bukan hanya tanggung jawab dinas kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama," tegasnya.

Ia turut mendorong dunia usaha dan sektor swasta untuk berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), seperti bantuan alat kesehatan, mobil puskesmas keliling, hingga dukungan gizi bagi balita stunting.

Terakhir, ia menekankan kepada jajaran tenaga kesehatan agar memberikan pelayanan dengan ramah, cepat dan tanpa diskriminasi serta menjadikan standar pelayanan minimal sebagai budaya kerja.

"Layani masyarakat seperti keluarga sendiri. Terapkan 3S; senyum, sapa, salam. Karena sebagus apa pun gedungnya, pelayanan tetap yang utama," demikian Halikinnor.

Baca juga: Sanksi administratif TPA dicabut, Bupati Kotim ingatkan jangan lengah

Sementara itu, Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi menyampaikan peresmian tersebut merupakan bagian dari pembangunan besar sektor kesehatan yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2025.

"Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan peresmian puskesmas di Kotim yang secara simbolis dipusatkan di Puskesmas Mentaya Seberang, dengan total 22 fasilitas kesehatan terdiri dari empat puskesmas dan 18 pustu, termasuk lanjutan pembangunan," ungkapnya.

Ia merincikan, pembangunan tersebut meliputi empat puskesmas baru, yakni Puskesmas Mentaya Seberang, Puskesmas Parenggean 1, Puskesmas Parenggean 2 dan Puskesmas Antang Kalang 2.

Pembangunan gedung baru 12 Pustu, yakni Pustu Bukit Batu, Pustu Tanah Putih, Pustu Basirih Hilir, Pustu Rasau Tumbuh, Pustu Jaya Kelapa, Pustu Tumbang Kalang, Pustu Keruing, Pustu Tumbang Puan, Pustu Mentawa Baru Hulu, Pustu Tumbang Sangai, Pustu Mentaya Seberang dan Pustu Ujung Pandaran.

Kemudian, lanjutan rehabilitasi enam Pustu yang selesai pada 2025, yakni Pustu Baamang Barat, Pustu Bamadu, Pustu Hanaut, Pustu Bapeang, Pustu Tumbang Batu dan Pustu Wonosari.

Menurutnya, seluruh pembangunan fasilitas kesehatan tersebut telah mengacu pada prototipe dan standar dari Kementerian Kesehatan, termasuk dalam tahap perencanaan yang dilakukan melalui konsultasi secara daring dengan pihak kementerian.

"Keberadaan fasilitas kesehatan baru tersebut diharapkan mampu mendukung penerapan ILP yang saat ini menjadi sistem pelayanan kesehatan di Kotim," harapnya.

Baca juga: Bupati Kotim instruksikan percepatan pembahasan APBD Perubahan 2026

Umar melanjutkan, seiring dengan penerapan ILP, kini pelayanan fasilitas kesehatan tidak lagi berbasis poli, tetapi berbasis klaster. Setiap klaster memilih tujuan masing-masing, misal Klaster 1 untuk manajemen, Klaster 2 untuk anak dan seterusnya.

Melalui sistem tersebut setiap pasien yang datang akan diidentifikasi secara komprehensif, mulai dari riwayat kesehatan, keluhan, hingga potensi penyakit yang dapat dideteksi lebih dini seperti hipertensi, diabetes, maupun gangguan kesehatan lainnya.

Dengan begitu, seluruh data pasien akan terekam dalam sistem database Kementerian Kesehatan, sehingga memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi dan pemantauan kondisi pasien secara berkelanjutan.

"Kalau sebelumnya kita tidak mengenal sistem seperti ini, sekarang dengan ILP semua bisa terdeteksi lebih awal, sehingga kita bisa melakukan tindakan pencegahan sebelum penyakit berkembang," katanya.

Baca juga: Pemkab Kotim semakin gencarkan pencegahan stunting sejak 1000 HPK

Dalam kesempatan itu, Umar juga menyampaikan bahwa kegiatan peresmian turut dirangkai dengan pelayanan kesehatan gratis oleh dokter spesialis, seperti spesialis kandungan, anak, penyakit dalam dan penyakit paru.

Menurutnya, layanan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat, khususnya di Kecamatan Seranau, untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara langsung dari tenaga medis spesialis.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan dan penerapan ILP merupakan bagian dari transformasi sistem kesehatan yang telah dijalankan di Kotim sejak 2024.

Melalui pendekatan tersebut, fungsi puskesmas dapat kembali pada peran utamanya sebagai pusat promosi dan pencegahan penyakit, bukan hanya pelayanan kuratif semata.

"Dengan dukungan fasilitas yang semakin memadai, kami optimistis pelayanan kesehatan di Kotim akan semakin baik dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat," demikian Umar.

Baca juga: Bupati Kotim tegaskan kepala desa wajib pahami pengelolaan dana desa

Baca juga: Bupati Kotim kukuhkan 17 DPK Apdesi demi perkuat kolaborasi desa

Baca juga: KSOP Sampit jemput bola layani penerbitan E-Pas Kecil bantu masyarakat



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026