Logo Header Antaranews Kalteng

Bupati Kotim jelaskan alasan Jembatan Patah belum diperbaiki total

Senin, 27 April 2026 20:15 WIB
Image Print
Bupati Kotim Halikinnor saat diwawancarai usai rapat paripurna di DPRD Kotim, Senin (27/4/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor mengungkapkan alasan perbaikan total Jembatan Patah yang berada di Jalan Kapten Mulyono Sampit tak kunjung terlaksana, padahal sebelumnya sudah sempat dimasukkan dalam rancangan anggaran.

“Untuk perbaikan Jembatan Patah itu sudah kami anggarkan, tetapi dicoret oleh pemerintah pusat, begitu pula perbaikan jalan ke Desa Kandan,” kata Halikinnor di Sampit, Senin.

Kondisi Jembatan Sei Mentawa 1 atau yang lebih dikenal dengan Jembatan Patah yang rusak parah kembali menjadi sorotan masyarakat, terlebih setelah adanya kecelakaan yang menyebabkan seorang korban jiwa dan satu lainnya kritis di lokasi itu, pada Sabtu (25/4).

Sepeda motor yang dikendarai kedua korban diduga hilang kendali saat melintasi jembatan yang berlubang, ditambah kawasan yang minim penerangan. Pasca kejadian nahas itu, masyarakat pun mendesak pemerintah daerah segera memperbaiki total jembatan tersebut.

Halikinnor menjelaskan, proyek perbaikan Jembatan Patah sebelumnya telah masuk rencana kerja sejak 2023, namun belum dapat terealisasi karena adanya efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat. Mirisnya, alokasi anggaran infrastruktur menjadi salah satu yang dicoret.

“Pemerintah pusat mencoret justru yang infrastruktur, termasuk untuk keperluan jalan dan jembatan. Makanya, saat musrenbang di provinsi kemarin yang dihadiri beberapa Direktur Jenderal (Dirjen) saya sampaikan, tolong anggaran yang sudah dikurangi jangan sampai diatur pusat,” ungkapnya.

Hal itu ia sampaikan dengan harapan dapat menjadi pertimbangan pemerintah pusat dalam menerapkan kebijakan. Sebab, menurutnya pemerintah daerah tentu lebih mengetahui kebutuhan di daerah masing-masing, sehingga tidak bisa disamaratakan.

Halikinnor mencontohkan, desakan masyarakat di Jawa dan Kalimantan terhadap infrastruktur mungkin berbeda. Di Jawa, kondisi jalan dan jembatan sebagian besar sudah memadai, berbeda dengan Kalimantan, khususnya Kotim yang bahkan di dalam kota saja masih memprihatinkan dan butuh biaya yang cukup besar.

Kendati begitu, Halikinnor menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak lantas tutup mata dengan kondisi Jembatan Patah yang rusak. Pemeliharaan rutin tetap dilaksanakan agar jembatan tetap fungsional, sembari menunggu anggaran memadai untuk bisa melakukan perbaikan total.

“Tetap kami pelihara, sementara kita menunggu anggaran memadai. Karena itu memang harus dibangun baru,” ucapnya.

Baca juga: Raperda PSU Kotim fokus kepastian hukum dan perlindungan masyarakat

Disamping itu, ia mengimbau masyarakat khususnya pengguna kendaraan agar bersama-sama menjaga dan memelihara infrastruktur yang ada agar bisa bertahan.

Untuk kendaraan muatan berat diminta tidak lagi melintas di jembatan tersebut, terlebih kini kondisi Jalan Mohammad Hatta atau Lingkar Selatan sudah mulus, sehingga tidak ada alasan bagi kendaraan muatan untuk melintas di dalam kota.

Terpisah, Pengawas Lapangan UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRKP) Kotim, Alfian menyampaikan pemeliharaan Jembatan Patah segera dilakukan pasca insiden yang menelan korban jiwa sebelumnya.

“Pemeliharaan sudah selesai tadi siang, sudah aman. Tapi pemeliharaan seperti biasa saja, kami mengganti kayu ulin yang patah dan baut-baut yang lepas. Jadi bukan perbaikan total,” bebernya.

Alfian melanjutkan, pemeliharaan rutin dilaksanakan setiap dua hingga tiga bulan sekali. Namun, dengan kondisi jembatan yang sekarang ini yang usianya diperkirakan lebih dari 20 tahun, memang pemeliharaan seperti itu tidak bisa bertahan lama.

Disebutkan, bahwa banyak baut yang sudah longgar dengan kayu ulin yang sudah tua dan kualitasnya pun menurun, serta banyak menggunakan kayu ulin bekas, lantaran semakin ketatnya aturan penggunaan kayu ulin baru untuk infrastruktur bangunan.

Di sisi lain, banyaknya kendaraan angkutan muatan berlebih yang melintas turut andil dalam kerusakan jembatan itu. Pasalnya, kapasitas maksimal jembatan tersebut hanya 10 ton, tetapi kendaraan angkutan yang melintas terkadang lebih dari 20 ton.

“Tonase maksimal jembatan itu hanya 10 ton, itu pun sudah lumayan rawan dengan kondisi jembatan seperti sekarang. Kalau truk sembako yang lewat masih aman, tapi dari pengamatan kami kadang itu kontainer besar juga lewat di jembatan itu,” demikian Alfian.

Baca juga: Wakapolda Kalteng pastikan kesiapsiagaan penanggulangan karhutla di Kotim

Baca juga: Disbudpar Kotim usulkan tujuh warisan budaya sebagai KIK

Baca juga: Airbus A320 mendarat perdana di Sampit 7 Mei



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026