Logo Header Antaranews Kalteng

Aktivis lingkungan gelar gotong royong kampanyekan kebersihan di Sampit

Selasa, 12 Mei 2026 06:06 WIB
Image Print
Aktivis lingkungan di Sampit gelar gotong royong sebagai bentuk kampanyekan kebersihan lingkungan, Senin (11/5/2026). (ANTARA/HO-Aktivis Lingkungan Sampit)

Sampit (ANTARA) - Kelompok aktivis lingkungan di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menggelar aksi gotong royong membersihkan saluran air di kawasan Sei Keramat sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan banjir sekaligus kampanye kebersihan lingkungan.

“Karena banjir belakangan ini kami bergerak dan sekaligus memberikan edukasi juga ke masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kami tidak memaksa siapapun untuk ikut, intinya siapa saja yang peduli silakan bergabung,” kata anggota aktivis lingkungan Harie di Sampit, Senin.

Kegiatan yang dipusatkan di aliran sungai kawasan Sei Keramat, Kecamatan Baamang dengan melibatkan sekitar 50 orang terdiri dari aktivis pecinta lingkungan, relawan pemuda Sampit, unsur Kecamatan Baamang, Kelurahan Baamang, hingga dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang menurunkan satu unit mobil operasional.

Menariknya, kegiatan tersebut juga diikuti seorang turis asal Norwegia yang saat itu tengah berkunjung ke Kota Sampit dan merasa terpanggil untuk turut mengkampanyekan kebersihan lingkungan dengan bergabung bersama para relawan membersihkan lokasi.

Harie menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan karena adanya keprihatinan terhadap banjir yang belakangan kerap merendam sejumlah kawasan di Kota Sampit setelah hujan deras turun.

“Jadi, karena banjir belakangan ini, kami bergerak sekaligus edukasi juga ke masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: IPSI Kotim seleksi atlet unggulan hadapi Porprov XIII Kalteng

Dalam aksi tersebut, para relawan membersihkan sekitar 10 meter aliran sungai dengan mengangkat eceng gondok, rumput liar, tumbuhan merambat, hingga sampah yang menyumbat saluran air.

Kondisi sungai yang dipenuhi tumbuhan dan sampah dinilai menjadi salah satu penyebab aliran air tidak lancar ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Disamping membersihkan saluran air, kegiatan itu juga menjadi sarana edukasi langsung kepada warga sekitar mengenai dampak membuang sampah sembarangan, terutama di kawasan drainase dan bantaran sungai.

Para relawan berharap kesadaran masyarakat dapat tumbuh sehingga lingkungan tetap bersih dan risiko banjir dapat ditekan.

Harie menegaskan kegiatan tersebut murni dilakukan sebagai gerakan sosial dan tidak memiliki tujuan untuk menyudutkan pihak manapun terkait kondisi lingkungan yang terjadi saat ini.

“Dalam kegiatan ini kami tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Kami hanya ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar karena dampaknya kembali lagi ke kita semua,” tegasnya.

Di sela kegiatan pembersihan, para relawan juga menemukan seekor ular piton yang cukup besar dengan panjang kurang lebih 2 meter di sekitar lokasi yang dipenuhi semak dan tumbuhan liar.

Ular tersebut kemudian dievakuasi agar tidak membahayakan warga karena lokasi berada di tengah kawasan permukiman padat penduduk. Setelah berhasil diamankan, ular itu kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman warga.

Penemuan satwa liar tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kondisi lingkungan yang kotor, lembab dan dipenuhi semak dapat memicu munculnya berbagai satwa, termasuk hewan berbahaya, ke area permukiman.

Aktivis lingkungan mengimbau masyarakat untuk rutin menjaga kebersihan drainase dan tidak membiarkan area sekitar rumah dipenuhi semak maupun tumpukan sampah.

“Selain mengurangi risiko banjir, lingkungan yang bersih juga dapat meminimalkan kemunculan satwa liar dan potensi konflik satwa dengan warga,” imbuhnya.

Ia berharap gerakan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dengan jumlah peserta yang lebih banyak agar dampak yang dihasilkan semakin luas.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama antara masyarakat, pemerintah dan komunitas.

“Ke depan semoga semakin banyak yang bergabung. Kalau kesadaran masyarakat tumbuh, tentu lingkungan kita juga akan lebih terjaga,” demikian Harie.

Baca juga: Staf BKPSDM Kotim pilih mengundurkan diri imbas perkara SK palsu

Baca juga: Kejati Kalteng dalami dugaan penyimpangan dana hibah Pilkada Kotim

Baca juga: Tiga peringatan nasional jadi momentum perkuat sinergi pembangunan di Kotim



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026