
Anak-anak TK di Sampit dikenalkan metode stek daun sejak dini

Sampit (ANTARA) - Anak-anak TK Aisyiyah 1 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dikenalkan metode stek daun sejak dini melalui kegiatan pembelajaran luar sekolah hasil kolaborasi dengan SMAS Muhammadiyah Sampit.
Kegiatan ini sarana menanamkan kecintaan terhadap lingkungan, kata Akademisi sekaligus peneliti yang aktif di SMAS Muhammadiyah Sampit, Dr Joni di Sampit, Kamis.
"Termasuk juga memperkenalkan teknik budidaya tanaman yang ramah lingkungan dan minim sampah," tambahnya.
Dalam kegiatan itu, anak-anak tidak hanya diajarkan menanam menggunakan metode stek daun, tetapi juga dikenalkan teknik pruning atau pemangkasan buah agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih maksimal.
Jenis tanaman yang digunakan pun beragam, mulai dari jambu air, ulin, manggis, kayu manis hingga tanaman hoya yang merupakan bunga hutan dengan bentuk menyerupai anggrek.
Dr Joni, kegiatan tersebut dapat pembelajaran baru bagi anak-anak karena selama ini aktivitas di sekolah cenderung monoton sehingga mereka membutuhkan pengalaman berbeda yang tetap edukatif.
Ia bahkan, mengklaim bahwa anak-anak dari TK Aisyiyah 1 Sampit satu-satunya di dunia yang sudah diajari stek daun untuk menggantikan metode tanam menggunakan biji.
"Dengan menanam stek daun itu dianggap mereka permainan baru, sekaligus melatih syaraf motorik mereka juga," ujarnya.
Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari program sebelumnya yang telah dilakukan sekitar dua pekan lalu. Pada kegiatan pertama, anak-anak dikenalkan cara menanam menggunakan biji dan stek pucuk, sedangkan pada pertemuan kedua mereka mulai belajar stek daun dan stek batang.
"Ini sudah kegiatan kedua. Pertama dua minggu lalu diajari tanam biji dan stek pucuk, lalu yang kedua ini tanam stek daun dengan stek batang," ungkapnya.
Ia menjelaskan metode stek daun memiliki sejumlah keunggulan, salah satunya mampu meminimalkan sampah organik.
Daun yang tidak dapat digunakan sebagai stek masih bisa dimanfaatkan kembali, seperti daun kayu manis yang dapat diolah menjadi minuman herbal, sedangkan sisa tanaman lainnya dapat dijadikan kompos maupun pupuk alami.
Selain itu, metode tersebut dinilai lebih fleksibel dibandingkan penanaman menggunakan biji. Jika penanaman biji harus menunggu tanaman berbuah terlebih dahulu untuk memperoleh benih, stek daun dapat dilakukan kapan saja selama karakteristik tanaman memenuhi syarat tertentu.
Joni menerangkan tidak semua tanaman cocok menggunakan metode stek daun. Tanaman yang dapat dikembangkan melalui teknik tersebut umumnya memiliki daun tebal dengan kandungan minyak cukup tinggi. Sementara tanaman rambat maupun tanaman berdaun tipis dinilai kurang sesuai.
"Beberapa jenis daun yang pernah kami coba menggunakan metode stek daun ini seperti manggis dan ulin," terangnya.
Joni melanjutkan, media tanam untuk stek daun juga berbeda dibandingkan penanaman biji. Jika biji umumnya dapat langsung ditanam di tanah, stek daun membutuhkan media lebih steril seperti sekam bakar, cocopeat dan biochar agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu bakteri dari tanah.
"Untuk masa pertumbuhan stek daun ini memang lebih lambat, sekitar tiga bulan. Sedangkan biji umumnya seminggu sudah tumbuh. Tapi kalau untuk kecepatan berbuahnya lebih cepat stek daun," jelasnya.
Baca juga: Pawai obor konsisten meriahkan malam Idul Adha di Sampit
Ia menambahkan, metode stek daun sebenarnya sudah lama dikembangkan di SMAS Muhammadiyah Sampit, bahkan telah digeluti sejak sekitar 10 tahun lalu.
"Teknik ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas karena pernah menarik perhatian seorang profesor asal Jerman yang datang langsung untuk mempelajarinya," tandasnya.
Sementara itu, Kepala TK Aisyiyah 1 Sampit, Misda Masitah mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif pihaknya setelah sebelumnya Dr Joni pernah datang memberikan pembelajaran menanam biji matoa kepada anak-anak.
Ketertarikan para guru terhadap metode stek daun dan stek batang membuat mereka kemudian berkunjung langsung untuk mempelajari teknik tersebut lebih lanjut sebelum akhirnya mengajak anak-anak belajar di luar sekolah.
"Alhamdulillah semua anak senang belajar cara tanam daun sama stek batang," tuturnya.
Ia menyebutkan, kegiatan itu menjadi bagian dari pembelajaran luar kelas agar anak-anak tidak hanya belajar di lingkungan sekolah, tetapi juga mengenal alam dan lingkungan sekitar secara langsung.
Melalui kegiatan tersebut, pihak sekolah berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mencintai alam dan peduli terhadap kelestarian tanaman.
Misda menambahkan sebelumnya TK Aisyiyah 1 Sampit juga rutin mengadakan pembelajaran di luar sekolah dengan mengajak anak-anak berkunjung ke taman kota maupun taman bunga sebagai sarana mengenalkan lingkungan sejak dini.
"Harapan kedepannya supaya anak-anak lebih mencintai alam ciptaan Allah serta selalu menjaga lingkungan," demikian Misda.
Baca juga: Penyebab kebakaran bangunan di Kotim didominasi korsleting listrik
Baca juga: PHBI Kotim ajak masyarakat rayakan Idul Adha dengan tertib dan khusyuk
Baca juga: DPRD Kotim dorong penambahan kuota BBM subsidi untuk petani
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
