Logo Header Antaranews Kalteng

Bupati Kotim dukung penguatan karakter santri hadapi tantangan era digital

Minggu, 31 Mei 2026 06:49 WIB
Image Print
Seminar Ilmiah bertema "Santri di Era Digitalisasi: Tantangan dan Solusi" yang digelar di aula Rujab Bupati Kotim, Sabtu (30/5/2026). ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor menegaskan pentingnya penguatan karakter dan literasi digital bagi generasi muda, khususnya santri, agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak tanpa kehilangan nilai moral, akhlak dan jati diri di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.

“Alhamdulillah, kita melaksanakan seminar ini sebagai salah satu hikmah dan berkah Idul Adha. Momentum ini untuk mengundang perwakilan pesantren agar mendengarkan secara langsung bagaimana cara menyikapi dan mengantisipasi dampak digitalisasi yang saat ini tidak bisa kita hindari,” kata Halikinnor di Sampit, Sabtu.

Hal ini ia sampaikan usai kegiatan Seminar Ilmiah bertema "Santri di Era Digitalisasi: Tantangan dan Solusi" yang diikuti perwakilan pondok pesantren dari berbagai wilayah di Kotim.

Kegiatan ini digelar bertepatan dengan kunjungan salah seorang ulama kondang, yakni Dr Habib Muhammad Hanif ke Kota Sampit, sebagai upaya memberikan edukasi kepada para santri dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Halikinnor mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat menyelenggarakan seminar tersebut. Kegiatan semacam itu dinilai sangat relevan dalam membentuk generasi muda pesantren yang siap menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan karakter yang kuat.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga menghadirkan berbagai ancaman yang perlu diwaspadai.

“Kita tau informasi yang beredar di media digital begitu cepat dan tidak semuanya memberikan dampak positif, bahkan tidak sedikit yang mengandung hoaks maupun konten yang dapat memengaruhi perilaku generasi muda,” tuturnya.

Fenomena ketergantungan terhadap gawai juga menjadi perhatian serius. Halikinnor menilai penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat berdampak terhadap perkembangan karakter anak apabila tidak disertai pengawasan dan pendampingan dari lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan.

Baca juga: Kodim 1015/Sampit perkuat komunikasi sosial dengan masyarakat

Oleh sebab itu, seminar tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi bagi para santri agar memiliki kemampuan menyaring informasi, memahami etika bermedia sosial, serta tidak mudah terpengaruh oleh konten negatif yang beredar di ruang digital.

“Kita tidak mungkin menolak perkembangan teknologi, globalisasi maupun modernisasi. Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak kita mampu menggunakan media sosial secara bijak, mengambil manfaat yang positif dan menghindari hal-hal yang negatif,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau lembaga pendidikan semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah daerah, pendidik, orang tua, dan masyarakat harus bersinergi dalam menyiapkan generasi yang cerdas, berkarakter dan bertanggung jawab.

“Jangan sampai generasi muda kita cerdas dalam teknologi tetapi lemah dalam moral dan akhlak. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi terbaik bagi bangsa, yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, memiliki kepedulian sosial dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan,” tegasnya.

Ia juga menilai pondok pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai moral sekaligus membentuk karakter generasi muda.

Ketangguhan pesantren saat menghadapi pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan berbasis keagamaan tersebut memiliki daya tahan dan kontribusi besar dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Pemkab Kotim, lanjut Halikinnor, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan positif yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter generasi muda.

Dukungan tersebut juga mencakup pengembangan pondok pesantren serta lembaga pendidikan yang menanamkan nilai-nilai karakter dan keagamaan.

“Ke depan kita berharap Kotim semakin kuat dalam pendidikan keagamaan dan pembinaan karakter generasi muda. Kepada para santri, teruslah belajar, berjuang, menjaga akhlak, dan jadilah generasi yang mampu menjadi cahaya di tengah perubahan zaman,” demikian Halikinnor.

Baca juga: Polres Kotim ungkap empat kasus pencurian sawit

Sementara itu dalam paparannya, Dr Habib Muhammad Hanif menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia pendidikan akibat perkembangan teknologi digital. Era digital dinilai telah membawa transformasi mendasar terhadap ekosistem pendidikan di Indonesia, termasuk dalam proses pembelajaran agama.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini menghadapi tantangan baru karena sebagian besar peserta didik lebih mudah mengakses dan mempercayai informasi keagamaan yang diperoleh dari media digital dibandingkan penjelasan yang diberikan guru di ruang kelas.

“Saat ini informasi keagamaan dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform digital. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan untuk memastikan informasi yang diterima peserta didik berasal dari sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Menurut Habib, fenomena tersebut sejalan dengan hasil kajian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti yang ditulis Hadi, Hairul dan Ali Jadid Al Idrus berjudul ‘Inovasi Kurikulum PAI: Harapan dan Realita di Era Digital pada Sekolah Menengah’.

Kajian itu menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa dalam memperoleh pengetahuan agama yang semakin bergantung pada media digital.

Maka dari itu, ia menilai pendidikan agama tidak cukup hanya mengajarkan materi keislaman secara konvensional, tetapi juga harus membekali peserta didik dengan kemampuan literasi digital agar mampu memilah informasi yang benar, memahami konteks keagamaan secara utuh dan terhindar dari pemahaman yang keliru.

Penguatan akhlak dan karakter harus berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan memanfaatkan teknologi agar santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

“Yang terpenting adalah bijak dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai kita dikendalikan oleh gadget itu sendiri,” demikian Habib Muhammad Hanif.

Baca juga: PT Maju Aneka Sawit berikan 16 ekor sapi untuk karyawan dan masyarakat merayakan Idul Adha

Baca juga: Polres Kotim tangkap kawanan pencuri komponen ekskavator

Baca juga: Pemkab Kotim raih opini WTP ke-12 dari BPK RI



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026