
Legislator Kotim minta asosiasi sawit aktif dampingi petani

Sampit (ANTARA) - Legislator Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah meminta asosiasi perkebunan sawit mengambil peran yang lebih nyata dalam mendampingi petani sawit mandiri.
“Menurut saya, asosiasi perkebunan perlu lebih aktif menjalankan fungsinya. Selama ini masyarakat masih belum banyak mengetahui sejauh mana peran asosiasi dalam mendampingi maupun memperjuangkan kepentingan pekebun sawit mandiri,” kata anggota Komisi II DPRD Kotim Zainuddin di Sampit, Rabu.
Hal ini ia sampaikan lebih khusus berkaitan dengan gejolak harga tandan buah segar (TBS) sawit yang sempat terjadi dan berpotensi mengganggu perekonomian masyarakat.
Zainuddin menilai, petani sawit mandiri menjadi kelompok paling rentan merasakan dampak ketika harga komoditas sawit mengalami penurunan. Oleh sebab itu, keberadaan asosiasi perkebunan dinilai penting untuk memberi pendampingan sekaligus memperjuangkan kepentingan para petani.
Apalagi, perkembangan perkebunan sawit rakyat di Kotim terus menunjukkan tren peningkatan. Kini, kebun sawit milik masyarakat tidak hanya berkembang di wilayah selatan, tetapi juga tersebar di sejumlah kecamatan lain, mulai dari Baamang Hulu, Teluk Sampit, Seruyan Hulu hingga kawasan pedalaman seperti Antang Kalang dan Mentaya Hulu.
Baca juga: Pemkab Kotim kaji hibah lahan untuk pengembangan Kaharingan Center
Meluasnya areal perkebunan rakyat tersebut menunjukkan sektor sawit telah menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat. Karena itu, berbagai persoalan yang dihadapi petani swadaya perlu mendapat perhatian bersama agar tidak berdampak terhadap kesejahteraan mereka.
“Petani swadaya harus tetap mendapatkan perlindungan. Mereka mengembangkan perkebunan sawit secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan meningkatkan taraf hidupnya, sehingga keberlangsungan usaha mereka harus diperhatikan,” ujarnya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini melanjutkan, pada April lalu harga TBS sawit sempat berada pada level yang cukup menguntungkan bagi petani. Saat itu harga berkisar antara Rp3.400 hingga Rp3.500 per kilogram, sementara petani masih dapat menjual hasil panen kepada pengepul dengan harga sekitar Rp3.000 per kilogram.
Namun kondisi tersebut berubah pada Mei ketika harga TBS mengalami penurunan signifikan. Di sejumlah wilayah, khususnya kawasan selatan Kotim, harga sawit di tingkat petani bahkan sempat anjlok hingga berada pada kisaran Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilogram.
Penurunan harga yang terjadi dalam waktu singkat itu menimbulkan keresahan di kalangan petani karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan mereka. Situasi tersebut juga memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan usaha perkebunan rakyat apabila kondisi serupa kembali terjadi.
“Ketika harga turun drastis, masyarakat tentu merasa cemas. Saat itu sempat muncul kepanikan karena pendapatan petani berkurang cukup besar dibandingkan saat harga masih berada pada posisi normal,” ucapnya.
Maka dari itu, ia berharap pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, asosiasi serta seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas harga dan memperbaiki tata niaga sawit di daerah.
Ia menekankan, upaya menjaga kestabilan harga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan komoditas, tetapi juga menyangkut kesejahteraan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan sawit.
“Ketika membahas harga TBS, yang harus menjadi perhatian utama adalah dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu persoalan ini perlu dibicarakan dan dicarikan solusi bersama agar tidak kembali menimbulkan keresahan di tengah masyarakat pada masa mendatang,” demikian Zainuddin.
Baca juga: Bupati Kotim sambut baik peninjauan ulang aturan belanja pegawai
Baca juga: Pemkab Kotim normalisasi drainase cegah genangan ganggu penerbangan
Baca juga: DKUKMPP Kotim imbau warga waspadai modus penjualan beras palsu keliling
Pewarta : Devita Maulina
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
